Semoga Komodo Bukan Komoditas Politik

Masih ingat 'gladiator'? Ia merupakan salah satu film favorit saya. Masih terekam dalam benak saya, ucapan Commodus Patricide, tatkala bermaksud mengurangi pengaruh Senat Romawi, dengan pernyataannya, "Berikan pada rakyat apa yang mereka sukai. Maka mereka akan menyerahkan hatinya padamu".

Haji Sandal Jepit

Bingung? Istilah ini mulai populer ketika musim haji tiba. Kalau anda mendengar pemberitaan koran yang ramai-ramai mewartakan adanya jamaah haji yang gagal berangkat melalui biro perjalaan haji, maka mereka yang gagal inilah yang ditempelkan kepada mereka sebutan 'haji sandal jepit'.

Orang Jawa Punah

Tidak sebagaimana suku-suku lainnya yang ketat mengadministrasikan garis keturunan melalui nama keluarga, farm atau marga kayak suku Batak, Minangkabau, Minahasa, Ambon, Timor, Nias, Dayak dan Toraja, jarang keluarga Jawa yang menadministrasikan dengan baik silsilah keturunannya.

Panitia Qurban (jadi) Korban

Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Panitia Qurban (jadi) Korban

Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Rabu, 26 September 2012

Cangkrukan asyik di Sidoarjo kota

Pernah merasakan makan mie di atas ketinggian 6.000 mtr? Mahal memang.  Untuk penernangan rute pendek jakarta surabaya perlu merogoh 400 rb.  Masih ditambah lagi unyuk semangkuk mie instannya.  Lhep.
Tapi begitulah sensasi memang sudah menjadi komoditas ekomomi.  Milik para pemodal, yang semakin menggelembung saja pundi-pundi dinarnya.
Lalu ada hubungan apa menulis dengan sensasi?  Bukankah menulis dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja?  Asal ide didapat, alat tulis tersedia, menulis mustahil untuk yidak dilakukan.
Anda benar.
Lalu?A
Coba jawab dengan jujur, pernahkah anda kehabisan ide? Atau mungkin kebosanan menerpa.  Rutinitas sudah menjadi harga mati.  Maka bila anda menjawab ya untuk semua hal itu, sudah saatnya anda mencari sensasi baru dalam memulis.
Caranya?
Datang saja ke pertigaan depan kantor pos Sidoarjo.  Cangkrukan bareng orang-orang yg kelaparan tiap pagi.  Bisa pilih menu sendiri.  Ada bubur ayam, bakso, siomay juga lontong kupang.  Pecel pun berserakan.  Jgn kawatir terganggu konsentrasi.  Anda bebas duduk berjam-jam tanpa pakai acara diusir segala.
Pemandangannya juga oke.  Mata akan dimanjakan dengan pandangan jauh tampa batas, cocok unyuk mengatasi mata capek bertempur dengan sinar LCD laptop atau tab bawaan.  Jangan memandang remeh warung kopi di sini.  Fasilitas wifi tersedia gratis.
Jangan tunda lagi.  Ayo cangkrukan disini.  Di pertigaan kantor pos Sidoarjo.

Minggu, 23 September 2012

Mengapa Harus Dikerjasamakan dengan Swasta?

KPS (Kerjasama Pemerintah Swasta) atau biasa disebut PPP (Public Private Partnership) secara sederhana dipahami sebagai suatu bentuk kerjasama antara pemerintah dan swasta untuk menyediakan pelayanan kepada masyarakat.  Masing-masing pihak berkontribusi dengan menyerahkan aset dan keahliannya dalam penyediaan layanan serta membagi dengan adil resiko yang mungkin timbul serta potensi manfaat yang dapat diperoleh.  Kerja sama ini tidak serta merta menghilangkan kewajiban pemerintah untuk menyediakan infrastruktur bagi warganya bilamana terjadi kegagalan dalam pelaksanaan konstruksi.  Fungsi KPS dalam hal ini hanyalah menyediakan alternatif pendanaan yang diperlukan pada sebuah proyek konstruksi (pada umumnya).
Pelaksanaan proyek konstruksi infrastruktur di Indonesia sebenarnya dapat dibedakan dalam tiga kategori utama berdasarkan sumber pendanaannya:
  1. Proyek Pemerintah yang didanai dari APBN/APBD, dengan pelaksana konstruksi adalah BUMN/BUMD dan Swasta (Asosiasi Pelaksana Jasa Konstruksi).
  2. Proyek milik BUMN/BUMD yang didanai dari anggaran BUMN/BUMD sendiri sesuai dengan besaran yang tercantum dalam RKAP yang  telah disahkan.
  3. Proyek Kerjasama Pemerintah - Swasta yang didanai oleh investor swasta/pinjaman perbankan/pasar modal dalam dan luar negeri.
Dengan skema tersebut, KPS sebagai sebuah pola pendanaan sebenarnya relatif menguntungkan bagi pemerintah.  Bagaimana tidak?  Bahkan di negara maju sekalipun, anggaran pemerintah tidak akan cukup untuk membangun seluruh infrastruktur yang dibutuhkan warganya.
Bappenas sendiri merilis, dari total kebutuhan penyediaan infrastruktur di Indonesia untuk kurun 2010-2014, hanya 31% yang dapat didanai oleh pemerintah melalui APBN/APBD.  Sisanya 69%  harus dicarikan dari sumber lain diluar APBN.  KPS lah jawabannya.  Pemerintah punya aset.  Swasta punya sumber pembiayaan yang tak terbatas.  Pemerintah dapat mendukung melalui penerbitan regulasi, swasta memiliki sumber daya yang efisien untuk mengelola Objek yang diKPSkan.  Klop sudah!
Maka bila anda adalah pembuat kebijakan dan pengambil keputusan di daerah, segera listing obyek infrastruktur yang menarik untuk di KPS kan.
Listing saja!  Adapun langkah selanjutnya serahkan pada perencana anda untuk menilai kelayakannya.
 



Senin, 27 Agustus 2012

Ngeblok gaya lama , gadget baru

 Mencoba hal baru membutuhkan kesabaran yg tinggi.  Tak jarang menghabiskan tabjngan sabar yg dah bergahun-tahun yak permahkita cairkan.
Akibatnya anda jhga harua sabar mrangkai kemnalk kalimat dan kata yang tak beratutam.  Karena semua kesalaham ketik,kimi ner,ula dari se,angaty umtukosting dgn ,enghumakan gadet battu. Samsung balaksk tab 2.0

SweLamaat ,ejikmati

Sabtu, 14 Juli 2012

Sakit itu...

Sakit itu berarti...,
     Lebih banyak waktu untuk merenung: apa itu hidup,
Sakit itu berarti...,
     Lebih banyak tilawah,
Sakit itu berarti...,
    Lebih banyak sholat malam,
Sakit itu berarti...,
     Lebih merindukan kebersamaan dengan keluarga,
Sakit itu berarti...,
     Lebih banyak kesempatan menulis,
Sakit itu berarti...,
     Lebih mampu untuk berbagi,
Sakit itu berarti...,
     Lebih menyadari tentang waktu yang terbuang,
Sakit itu berarti...,
     Banyak janji-janji mulai ditaburkan,
Sakit itu berarti...,
     Mulai berharap ada teman dan handai taulan datang menjenguk,
Sakit itu berarti...,
     Lebih sering berdoa,
Sakit itu berarti...,
     Lebih banyak Instropeksi,
Sakit itu berarti...,
    Indah sekali
Ya Alloh terima kasih telah Kau beri aku sakit yang tiada henti...
Makasih..Ya Robb...

Rabu, 01 Februari 2012

Menjauhlah Wahai Diklatku Sayang

Empat hari berasa 4 tahun.  Itu hanya terjadi di Ciawi.  Penugasan diklatku kali ini boring banget.  Tidak bermaksud menyalahkan Ciawi, namun diklat kali ini adalah diklat yang pertama di tahun 2012 ini. Bangga sih, apalagi pesertanya cukup 28 orang saja.  Tak ada kelas lain, tak ada pesaing.  Sepi.  Hening.  Pusing.

Materinya cukup bagus.  Very Inspiring.  Tapi dosennya garing.

Dan yang paling mendebarkan ketika saat makan pagi, siang dan malam tiba.  Kebiasaan kampungan tak menyentuh piring sepanjang malam, hancur lebur, musnah diserbu variasi hidangan yang menggoda iman.
Meski belum terbukti secara ilmiah, aku yakin bobotku nambah tiga kilo.  Indikasinya cukup jelas.  Kalo duduk tahiyat akhir saja harus dengan susah payah karena ganjalan daging di pinggang, maka final sudah keyakinan itu.  Tiga kilo !  Tak perlu pansus.  Apalagi Paripurna.

Itulah kenapa aku benci diklat.  Bukan pada ilmunya.  Melainkan pada hidangannya.  Bukan pada masakannya, namun pada lemak yang menempel di dalamnya.  Pada karbohidrat yang merelakan dirinya dijamah tanpa perlawanan.  Juga pada Kolesterol yang sembunyi di balik ketiak dada ayam.

Menjauhlah wahai Diklatku.  Menjauhlah dari setiap penugasanku.  Bila pada akhirnya engkau tetap bersikeras mendekatiku, bawalah semua propertimu mendekatiku. Bawalah semua diktat, makalah dan sumber pengajaranmu.  Aku tunggu di sini.  Di Sidoarjo Larangan Candi.  Agar aku bisa melawan semua serbuan hidanganmu.

Ciawi, 2 Februari 2012 tepat di pergantian hari 00.00.

Minggu, 29 Januari 2012

Pontianak, Tugu Khatulistiwa, dan Kedai Kopi Merapi

Masih ingat dengan Henry Mulyadi? Itu lho, supporter Indonesia yang saking kecewa melihat prestasi timnas sepakbola Indonesia, nekat masuk ke lapangan ketika pertandingan Indonesia vs Oman memasuki injury time. Dengan penuh percaya diri, ia meliuk-liukkan tubuh gemuknya berusaha menceploskan bola ke gawang Oman. Lantas, apa hubungannya Henry Mulyadi dengan Pontianak?

Tidak ada sama sekali. Kecuali hanya sekedar menunjukkan bahwa bila ditanyakan pada seorang Henry Mulyadi yang seorang penggemar bola kelas berat, singkatan Persipon, boleh jadi dia akan gelengkan kepalanya. Kalaupun ia menganggukan kepalanya, akan begitu banyak kombinasi yang muncul.

Persipon? Persatuan Sepakbola Indonesia pastinya, cuma Pon nya apa ya? Ponorogo? Pontianak, atau Ponariyo Astaman? Tak ada yang bisa memastikan. Tapi cobalah jalan-jalan ke jalan Pattimura Pontianak. Ada satu plang kecil bertuliskan Persipon. Saya menemukannya secara tidak sengaja kala hendak berburu barang souvenir dan jajanan khas Pontianak. Markas Persipon mudah ditemukan. Berbatasan langsung dengan kios penjual souvenir paling selatan.

Sebagaimana yang dilakukan pelancong lainnya, wajib hukumnya membawa oleh-oleh sebagai bukti otentik kita telah berkunjung ke suatu daerah. Sekedar foto saja tidaklah cukup selama Roy Suryo masih hidup. Karena mungkin saja foto kita yang aslinya melebihi 24 karat, kalo den baguse Roy bilang, foto ini telah direkayasa, maka hanguslah bangunan kepercayaan publik yang kita miliki.

Tidak adil memang rasanya menilai Pontianak dalam waktu hanya dalam hitungan hari. Namun harus saya katakan, pusat pertokoan Pontianak yang menaungi ratusan kios dan penjual nampak tertata rapi. Teratur bagaikan berbaris dalam bingkainya masing-masing. Satu kekurangannya mungkin (atau bahkan kelebihannya?) warna-warna yang membalut dinding bangunan itu seragam. Kusam! Sehingga bangunan yang sudah berumur itu tampak tidak terawat. Mengerikan bagi penyandang Nyctophobia (penyakit psikologis takut kegelapan). Namun sangat menantang dan prospektif bagi produser Dunia Lain, Rahasia Alam Gaib dan Pemburu Hantu.

Sudut Kota Pontianak dari Jendela Kini Hotel
 Kondisi bangunan dan suasananya yang mirip tahun 60-an inilah yang mungkin membuat penggemar kopi ketagihan.  Jangan berani cerita kalo sudah nyampe Pontianak kalo belum pernah cangkruk di kedai kopi Merapi.  Kopinya mungkin sama enaknya dengan kafe di kota anda, namun suasana kebatinan yang menyelimuti anda saat menyeruput kopi sudah pasti berbeda. Di kedai itu, anda akan mudah mencari kawan.  Tak ada sekat pangkat ataupun jabatan.  Semua membaur.  Tak peduli anda jenderal ataupun kopral.  Tak peduli anda pejabat luar biasa atau rakyat jelata.  Maka di pagi buta itu, dengan ditemani irama rintik hujan dan gelapnya gulita, kami pun bertukar nama dan deretan angka.  Rosihan Anwar, begitu bapak tua itu mengenalkan dirinya.  Orang-orang menyebutnya Pak Haji.  Usianya lebih dari 60.  Tapi jangan salah.  Topik apa pun yang anda tawarkan, selalu dia beli kontan.  Pengetahuan dan pendapatnya tentang berbagai masalah aktual negara ini menjadi peneman dan perekat perbincangan kami.  Seolah kami adalah teman lama yang baru bertemu setelah terpisah jarak dan kala.  Hati-hatilah dengan relasi yang dimilikinya.  Karena begitu mengenalkan profesi anda, langsung dia akan sebut nama yang menjadi tokoh di bidang yang anda tekuni.  Kedai kopi Merapi adalah jujugan wajib selain tugu katulistiwa di kota ini.  Dia tunjukkan pada kami kursi besi dimana tamu-tamu besar dan penting biasa duduk nyeruput kopi.
"Ini tempat Pangdam biasa duduk," tunjuknya pada kursi besi bulat warna merah.
"Dan ini bapak Kapolda," katanya sambil menggeser telunjuknya menunjuk kursi disebelah yang merah.
Tanpa dikomando, kami langsung geser pantat.  "Siapa tahu jadi kepala kantor,"gumam saya lirih.  Pak Sigit rekan dari Semen Gresik juga ikut bergeser.  "Siapa tahu jadi dirut Semen Gresik," katanya ringan.  Kami tertawa.  Semua terbahak-bahak.

Berharap tuah kursi Pangdam dan Kapolda (Ki-ka : Sugiarto, Sigit, Julianto, Ignatius, Rosihan Anwar)

Berniat pergi ke Pontianak, merencanakannya, dan mendarat dengan selamat di Bandara Supadio tidak serta merta menyadarkan saya bahwa Pontianak sangat istimewa.  Baru beberapa menit mengelilingi Packing Plant Semen Tonasa di kawasan Wajokhilir, Pontianak Utara, sengatan sinar matahari pagi terasa mencubit wajah dan kulit tangan.  Sebentar-bentar saya harus menyilangkan tangan melindungi wajah yang seolah terbakar.  Padahal baru jam sembilan pagi.  Kulit saya semakin gelap rasanya.  Sering saya terpaksa berlindung di samping dinding bangunan mencoba bersembunyi dari tikaman mentari.

Pabrik Pengantongan Semen yang dioperasionalkan PT. Semen Tonasa
 Barulah saya menyadari betapa istimewanya Pontianak.  Sengatan panas yang membabi buta sepenuhnya adalah kesalahan saya.  Salah karena saya berdiri di pertemuan Lintang Utara dan Selatan.  Tepat titik 0.  Posisi di mana matahari paling dekat dengan bumi.  Maka mengunjungi tugu katulistiwa wajib hukumnya.  Sebagai prosesi balas dendam atas panas yang saya derita.

Monumen Tugu Khatulistiwa
 Masyarakat Kalimantan Barat begitu bangga dengan keberadaan tugu khatulistiwa di daerahnya.  Lihat saja souvenir di jalan Pattimura.  Dominasi miniatur tugu menghiasi etalase setiap toko.  Bahkan lambang daerah provinsi juga dihiasi dengan simbol garis khatulistiwa.  Suatu kebanggaan yang tidak dimiliki tujuh provinsi lain yang wilayahnya dilewati garis khatulistiwa.  Semisal Provinsi Sulawesi Tengah.  Dalam perjalanan menyusuri Teluk Tomini tahun 1997, saya berkesempatan untuk singgah pada tugu khatulistiwa yang berada di tengah persimpangan jalur jalan Trans Sulawesi di Desa Sinei (sekarang Desa Khatulistiwa) Kecamatan Tinombo Selatan dengan jarak ± 105 dari kota Parigi (Ibukota Kabupaten).  Tidak sebagaimana saudara tuanya di Pontianak, keberadaan tugu ini sangat memprihatinkan.  Jangankan bangunan pelindung yang memperpanjang usia kayu penopang lingkaran simbol garis khatulistiwa, sekedar mengecat badan tugu pun segan.  Rumput liar tumbuh subur mengelilingi lokasi tugu.  Orang malas pesiar ke sana.

Memasuki bangunan tugu, saya disambut tiga orang pegawai dinas pariwisata.  Salah satunya ibu-ibu, yang dengan ramah mempersilakan mengisi buku tamu.  Ajaib, saya tidak ditarik sepeserpun tiket masuk.  Mungkin ini yang menyebabkan masyarakat tidak berbondong-bondong mendatanginya.  Halaman parkir hanya dipenuhi dua mobil rombongan kami.  Penyakit khas indonesia.  Gratis No, Bayar Yes! Tariklah kacis atas nama pemeliharaan dan operasional sepantasnya, maka saya yakin monumen tugu khatulistiwa akan merupakan wisata geografis dan alam yang menjadi destination utama.  Kami mengambil gambar bergantian.  Menggenggam dunia bergantian. Berpose di depan tugu ibarat menaruh dunia dalam genggaman.  Katanya.

Narsis Forever
Tetep Narsis The Series

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More