Semoga Komodo Bukan Komoditas Politik

Masih ingat 'gladiator'? Ia merupakan salah satu film favorit saya. Masih terekam dalam benak saya, ucapan Commodus Patricide, tatkala bermaksud mengurangi pengaruh Senat Romawi, dengan pernyataannya, "Berikan pada rakyat apa yang mereka sukai. Maka mereka akan menyerahkan hatinya padamu".

Haji Sandal Jepit

Bingung? Istilah ini mulai populer ketika musim haji tiba. Kalau anda mendengar pemberitaan koran yang ramai-ramai mewartakan adanya jamaah haji yang gagal berangkat melalui biro perjalaan haji, maka mereka yang gagal inilah yang ditempelkan kepada mereka sebutan 'haji sandal jepit'.

Orang Jawa Punah

Tidak sebagaimana suku-suku lainnya yang ketat mengadministrasikan garis keturunan melalui nama keluarga, farm atau marga kayak suku Batak, Minangkabau, Minahasa, Ambon, Timor, Nias, Dayak dan Toraja, jarang keluarga Jawa yang menadministrasikan dengan baik silsilah keturunannya.

Panitia Qurban (jadi) Korban

Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Panitia Qurban (jadi) Korban

Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Sabtu, 05 November 2011

Panitia Qurban (jadi) Korban


Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Tak bertele-tele, penunjukkan penanggungjawab didasarkan pada data historis. Artinya, orang yang dari tahun ke tahun kebagian ngurus pelaksanaan sholat, mulai dari cari penceramahnya, persiapan lapangan yang hendak digunakan, hingga penyiapan alat, maka untuk tahun ini juga ditetapkan menjadi penanggung jawab kegiatan yang sama. Begitu pula orang yang sejak dulu bertugas membeli hewan kurban, langsung ditetapkan menempati pos yang sama.

"Sudah pengalaman!", kata warga serempak.
"Serahkan pada ahlinya..!, yang lain tak kalah menimpali.
"Kita memang tak boleh ambil resiko dengan menaruh orang yang sama sekali tak mengerti dengan tugas-tugas mulia seperti ini", kata ketua takmir menengahi.

Jadilah panitia pelaksana kurban, dari tahun ke tahun tak pernah berubah. Inilah kalau panitia tak digaji. Semua orang berebut untuk..., menghindar! Beda sekali bila yang diperebutkan adalah jabatan dengan gaji tinggi dan segenap fasilitas yang menempel padanya. Tak kan ada alasan 'sudah pengalaman, sudah ahli, atau hanya sekedar meminimalisir resiko'.

Rapat pertama dan terakhir ini langsung ambil keputusan. Harga kambing per ekor termasuk biaya administrasi Rp1.025.000,- Sedangkan 1/7 bagian sapi Rp1.200.000,- sudah termasuk biaya administrasi. Untuk pertama kalinya, harga kurban baik kambing maupun sapi, menurun dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, kambing dihargai Rp1.200.000,- termasuk ongkos, sedang sapi Rp1.250.000,-. Luar biasa panitia kita. Di saat harga-harga melonjak naik, tarif berkurban malah diturunkan. Untuk memastikan penyembelihan hewan kurban terselenggara, rapat sekaligus menodong yang hadir untuk sukarela berkurban sapi. Jadilah malam itu satu sapi, urunan dari panitia yang hadir, berhasil dipastikan jadi kurban.

Tak pakai lama, surat edaran pemberitahuan dan himbauan untuk berkurban segera didistribusikan. Respon warga adem-ayem. Panitia pun nyaman. Idhul Adha tahun 2011 kali ini jatuh pada hari Ahad, 6 November 2011. Panitia telah merencanakan untuk membuat terpal pelindung hewan pada Jumat dua hari sebelum Idhul Adha.

Kamis sore datanglah satu warga menggiring satu kambing. Pak Yono salah satu takmir yang ketiban sampur tak dapat menolak kambing warga. Selepas sholat maghrib, tak seperti biasanya, ia mencegat langkah saya.

"Pak, ada kambing di rumah saya. Penginapannya di mana ya?" tanyanya penuh harap. Saya mengerti benar. Ada nada keberatan dalam pertanyaannya itu. Dan saya sebagai ketua takmir memang paling pantas sebagai tempat jujugan, meski dalam kepanitiaan kurban, saya hanya cheerleader saja.

Memang sih terpikir untuk dititipkan satpam perumahan. Tapi itu diluar kesepakatan dari yang seharusnya hari Jum'at. Lagian saat itu rintik dah mulai turun. Kasihan kambingnya. Tak ada tempat untuk berteduh. Beda dengan sapi, kambing memiliki daya tahan tubuh yang jauh lebih lemah. Kehujanan sepanjang malam, bisa membuatnya flu,batuk dan pilek. Padahal masih tiga hari lagi. Kalo mati? Siapa yang harus mengganti? Ini masalah besar! Dan harus segera diputuskan!

Usai sholat Isya, kami menunggu satu takmir lagi. Saya pikir kalo tiga orang yang memutuskan lebih kuat di depan hukum daripada dua orang yang kebingungan. Akhirnya keputusan pun diambil. Kambing ditaruh di musholla. Persis di tempat wudhu wanita, yang selama ini jarang digunakan. Marbot pun bersedia untuk membersihkan selepas kambing dipindah ke tempat yang seharusnya. Satu persoalan tuntas sudah! Meski sepanjang malam, hati saya dag dig dug. Kalo hilang siapa yang harus ganti?

Kandang kambing sudah dibuat. Kebanyakan warga menggiring kambingnya sendiri. Sikap ini mendapat dukungan penuh panitia. Tak perlu keliling cari kambing. Meski begitu ada dua warga yang menitip uang ke panitia. Jadilah Sabtu itu kita gunakan untuk berburu kambing. Alamak..., setelah puas berpusing-pusing (malay punya istilah neh) tak ditemukan satu pun penjual melepas kambing dengan harga Rp1 juta. Untuk ukuran yang paling kecil saja sudah Rp1,2 juta.

Syukurlah Alloh melihat usaha kami. Melalui tukang batu yang sedang merenovasi rumah tetangga, didapatlah info kalo dia pelihara kambing. Meluncurlah kami kesana. Untuk satu ekornya kena Rp950.000,- Alhamdulillah. Meski ukurannya sama dengan yang seharga Rp1,2 juta. Mudah-mudahan warga yang berkurban tidak kecewa. Melihat kambing lain yang dibawa sendiri oleh masing-masing pengkurban jauh lebih besar.

Inilah resiko jadi panitia! Resiko yang kemudian menjadi guyonan diantara kami.

"Ntar kalo pengkurban protes, kenapa kambingnya kecil, harus ada yang bersedia menjelaskan lho ya", ingat saya.
"Makanya kami pergi bertiga Pak", jelas Pak Sokeh yang mempunyai beban moral, karena kambing dibeli dari tukang batu yang merenovasi rumahnya.
Karena beban moral itulah mungkin yang membuat Pak Sokeh punya usulan antik. "Bagaimana kalo tahun depan, Sapi kita patok Rp1.250.000, - sedang kambing Rp1.500.000,- Pak?", katanya sambil ketawa-ketawa kecil.

Kurban kambing jauh lebih mahal dari Sapi?

"Ya Pak, dengan begitu semua orang pasti pilih sapi. Kalopun mau kurban kambing, orang itu pasti beli sendiri, yang jauh lebih murah", lanjutnya tenang.

Saya ketawa. Takmir yang lain tak jauh beda.

Rabu, 02 November 2011

Orang Jawa Punah


Meskipun sering diklaim sebagai suku mayoritas di Indonesia, namun sulit bagi saya untuk mendapatkan data terkini tentang komposisi kependudukan Indonesia berdasarkan suku bangsa. Data kependudukan yang terdapat dalam katalog BPS Nomor 9199017 Edisi 10 Maret 2011 halaman 35 buku atau halaman 48 pdf, hanya membicarakan pertumbuhan penduduk, komposisi berdasarkan jenis kelamin, Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi. Itu saja. Bahkan publikasi offline yang berserakan di perpustakaan BPS Jawa Timur Jalan Raya Kendang Sari Industri Surabaya, tempat dimana saya biasa mangkal berburu data statistik tak ada satupun yang menampilkan komposisi penduduk berdasarkan suku bangsa. Entah. Tanya Kenapa?

Tapi lupakan sajalah tentang komposisi suku. Meski sebenarnya cukup penting sebagai bahan komparasi dalam bahasan selanjutnya, yang ingin saya katakan adalah suku jawa terancam punah. Atau bahkan telah punah! Disadari atau tidak.

Bukan dengan kategori bahasa -meski banyak orang jawa yang sudah kaku dan tidak paham kromo alus, sehingga cenderung berbahasa indonesia meski dengan orang tua nya sendiri.
Bukan juga masalah filosofi seperti yang ditengarai Magnis Suseno :"Kalau ada orang Jawa yang kehilangan rasa, membiarkan dirinya dikendalikan nafsu dan pamrih, kasar, dalam filosofi Jawa orang itu dianggap "belum jawa" (durung jawa)".

Tapi punah dalam 'garis keturunan'!

Tidak sebagaimana suku-suku lainnya yang ketat mengadministrasikan garis keturunan melalui nama keluarga, farm atau marga kayak suku Batak, Minangkabau, Minahasa, Ambon, Timor, Nias, Dayak dan Toraja, jarang keluarga Jawa yang menadministrasikan dengan baik silsilah keturunannya. Satu-satunya keluarga Jawa yang tertib dan rapi membukukan silsilah mereka hanyalah keluarga kerajaan. Itu pun baru di mulai pada masa kerajaan mataram baru yang didirikan oleh Raden Sutawijawa pada 1587 M.

Maka tak heran , kebanyakan kita (jawa rek) paling jauh hanya mengenal buyut saja. Garis keturunan buyut ke kanan dan ke kiri di luar garis keturunan kakek-nenek dan ayah-ibu kita, hilang seolah tak berbekas. Inilah kepunahan yang mengancam orang Jawa. Hanya mengenal tiga generasi di atasnya. Itupun dengan catatan bila orang tua kita pro aktif kesana-kemari mengenalkan garis keturunan dan mewariskannya ke kita.

Syukurlah, kesadaran untuk mengumpulkan 'balung pisah' mulai tumbuh di kalangan generasi muda jawa. Kesadaran yang sebelumnya tidak dimiliki pada generasi sebelumnya. Maka perburuan saudara jauh dari garis keturunan kakek-nenek hingga ke buyut menjadi target jangka pendek. Mumpung pelaku sejarah, para orang-orang lanjut usia dari nenek moyang kita masih hidup.

Untuk memudahkan administrasi, biasanya hubungan kekerabatan dibedakan dalam lima kategori utama, seperti:


Untuk tahap awal, data yang diinginkan masih sederhana. Hanya sebatas nama, hubungan keluarga dan tanggal lahir maupun wafat.

Banyak piranti lunak yang cukup membantu pengadministrasian tulang yang berserakan ini. Diantaranya adalah Family Tree Pilot, Genopro, Dynastree, Legacy , dan masih banyak lagi. Tinggal pilih yang anda suka. Semua piranti tersebut free. Namun masih berbasis web, kecuali Dynastree Home Edition yang merupakan aplikasi desktop yang dapat didownload.

Kalau anda belum sempat memulai proyek besar ini, setidak-tidaknya gunakan nama ayah anda dibelakang nama anda. Mungkin pada awalnya agak kikuk dan banyak pertanyaan.

"Supangat?"
"Ya, itu nama ayah saya!"


Download Dynastree Home Edition

Senin, 31 Oktober 2011

Haji Sandal Jepit

Bingung? Istilah ini mulai populer ketika musim haji tiba. Kalau anda mendengar pemberitaan koran yang ramai-ramai mewartakan adanya jamaah haji yang gagal berangkat melalui biro perjalaan haji, maka mereka yang gagal inilah yang ditempelkan kepada mereka sebutan 'haji sandal jepit'.

Lho kok?

Lebih teknis lagi, haji sandal jepit adalah mereka calon jamaah haji yang berangkat tidak masuk jatah kuota haji reguler maupun khusus. Jamaah haji non kuota ini menggunakan sistem berhaji dulu di Makkah lalu mengikuti menjalankan umrah di Madinah. Berdasarkan asal geografis pemberangkatannya, haji sandal jepit dibedakan dalam dua kategori. Yang pertama adalah WNI yang dijadwalkan berangkat melalui embakarsi haji di tanah air. Mereka biasanya pergi berombongan melalui kelompok-kelompok biro perjalanan haji swasta. Sedang yang kedua adalah para WNI yang bekerja di Arab Saudi atau negara timur tengah lainnya. Mumpung tempat kerjanya masih berdekatan dengan Mekah, tak ada salahnya toh sekalian ibadah, pikir mereka.

Meski dianggap sah secara hukum agama, namun keberadaan para haji sandal jepit ini sangat merepotkan pemerintah. Pemberitaan di media tentang jamaah haji yang terlantar atau pelayanan yang kurang, seringkali tanpa disertai penjelasan bahwa mereka adalah jamaah haji non kuota. Contoh, mengatasi jamaah haji non kuota yang yang kesasar. Sulit bagi petugas untuk menginformasikan lokasi pemondokan mereka.

"Jika jamaah haji reguler bisa dideteksi dengan cepat lokasi pemondokannya. Tapi kalau haji non kuoata, sulit sekali mencarikan pemondokan," tandas Khoirizi Dasir Kepala Seksi Pengedali Haji Khusus Daerah Kerja Makkah.

Namun berarti Khoirizi lepas tangan. "Bagiamanapun juga mereka tetap warga Indonesia. Dan kami kewajiban untuk menolongnya," paparnya.

Resiko Haji Sandal Jepit

Berbekal dengan semangat menunaikan ibadah urutan kelima dalam rukun Islam, banyak calon jamaah haji sandal jepit ini yang abai terhadap resikonya. Dengan sadar bahkan dibeberapa tempat harus berebut dan mengeluarkan biaya yang jauh lebih tinggi dari jamaah kuota, mereka rela terdaftar sebagai non kuota. Yang penting berangkat. Yang penting Ibadah. Yang penting haji!

Berikut adalah resiko-resiko yang harus diwaspadai bila anda memutuskan untuk terdaftar sebagai haji sandal jepit:
  1. Tidak tersimpan dalam data base Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kemenag. Bila perjalanan haji anda tidak ada hambatan berarti, semua mulus sesuai rencana. Orang bilang, dimudahkan Alloh, maka tidak terdaftar dalam Siskohat, bukanlah masalah besar. Namun bila anda memiliki bakat pikun dan gagap di negara asing, lalu tanpa diminta-minta anda terlantar dan tersesat, maka ketika anda datang pada Media Center Haji Indonesia Kemenag yang ada di sana untuk ditunjukkan lokasi pemondokan dan teman satu rombongan , maka anda akan ditanya nomor ID anda, lalu anda bilang nggak punya ID, maka jangan marah bila petugas dengan ramah akan berkata, Bapak-Ibu banyak-banyak berdoa saja ya. Dan fakta berbicara: banyak jamaah haji non kouta yang terlantar sejak di bandara atau tersesat di masjidil haram. Bersiap-siaplah!
  2. Mengalami kesulitan saat akan dimakamkan. Bukan cuma terlunta-lunta, bahkan sekiranya Alloh menakdirkan jamaah non kuota meninggal saat menunaikan ibadah haji, diperlukan prosedur yang rumit dan birokrasi yang panjang. Masih ingatkan? Jenazah Ronidah Muhamad Amin, jamaah asal Muara Enim, Palembang bahkan sampai dua hari belum bisa dikuburkan. Pihak muasasah tidak berani menguburkan jenazah jamaah asal Muara Enim itu sebelum ada surat keterangan dari pemerintah Indonesia perwakilan Arab Saudi. Kadaker yang bertanggung jawab atas jamaah haji resmi yang terdaftar di Kementerian Agama tidak bisa mengeluarkan surat keterangan untuk pemakaman. "Kalau ada jamaah nonresmi meninggal saya sarankan agar menghubungi konsuler di KJRI. Karena proseduralnya begitu. Kami hanya bertanggung jabwab pada jamaah yang resmi, kalau nonkuota tanggung jawab KJRI,” jelas Subakin, Kadaker PPIH.
  3. Gagal Berangkat. Coba anda ketikkan keyword 'batal haji 2011'. Tak perlu dijelaskan lagi. Semua pembatalan tersebut menimpa jamaah haji sandal jepit! Dan parahnya lagi, uang yang telah disetor jamaah tidak dapat ditarik kembali. Pihak Penyelenggara hanya menjanjikan untuk dapat diberangkatkan tahun depan. Meski banyak diantara mereka para penyelenggara haji itu yang hanya menebar janji. Selengkapnya lihat disini, disini, disini dan disini.
Penyebab Munculnya Fenomena Haji Sandal Jepit

Meskipun pemberitaan media gencar mewartakan penderitaan yang dialami haji non kuota, namun dari tahun ke tahun jamaah haji jenis ini cenderung meningkat. Penyebabnya antara lain:
  1. Niat yang tulus untuk menunaikan ibadah rukun Islam kelima, mendorong mereka untuk berpikir positif terhadap biro perjalanan haji. Dapat dikatakan, tak banyak tuntutan yang terlontar dari mulut jamaah, ketika hendak diberangkatkan kembali musim haji tahun ini. Sekalipun banyak cerita dari jamaah haji non kuota yang kerap mengeluh atau merasa dirugikan oleh oknum yang memberangkatkan mereka. "Sepertinya keluhan dan rasa dirugikan hilang setelah bisa wukuf dan tawaf di kakbah,"kata salah satu jemaah.
  2. Tawaran kemudahan pengurusan. Meskipun lebih mahal dari ONH yang ditetapkan pemerintah, mereka cenderung memilih haji non kuota karena kemudahan yang ditawarkan biro perjalanan. "Memang pemerintah lebih murah. Tapi, pemerintah memberlakukan pembatasan usia. Sebagian dari kami sudah tidak bisa lagi mendaftar haji di pemerintah karena usia yang lanjut. Selain itu, kami juga harus masuk daftar tunggu," kata salah seorang jamaah non kuota.
  3. Tidak menyadari kalau dirinya termasuk dalam jamaah non kuota. . Hal ini diduga terjadi karena keawaman mereka mengenai haji reguler, haji plus atau semi plus. Bisa juga karena memang ada yang mengkoordinir, seperti biro atau majelis-majelis taklim. Para jamaah ini percaya saja dengan pimpinan majelis taklim. “Mereka tidak tahu jalurnya dan bayar melalui yang bersangkutan,” ungkapnya.
  4. Adanya ketimpangan antara kuota jamaah haji dengan minat masyarakat Indonesia. Di beberapa provinsi kursi haji baru kosong setelah 2021 nanti. Di antaranya di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nangroe Aceh Darussalam. Hal tersebut dijadikan peluang emas sebagian oknum untuk mencari keuntungan sendiri. Mereka memanfaatkan peluang dari jalur non-kuota yang disediakan oleh Kedutaan Arab Saudi di Jakarta.
  5. Kelemahan dalam pengurusan visa di KBRI Arab Saudi di Jakarta, dan pengawasan imigrasi di Indonesia. Jamaah haji non kuota ini bisa terbang ke Saudi karena memperoleh visa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Tidak semestinya pemerintah Saudi mengeluarkan visa haji untuk penduduk Indonesia di luar kuota yang telah ditentukan pemerintah Saudi untuk Indonesia. Kuat dugaan hal ini terjadi karena adanya peran calo atau makelar visa.
  6. Tidak tepatnya pemahaman tentang konsep istatha'ah ibadah haji. Konsep istatha'ah diartikan sebagian ulama sebagai ukuran individual kemampuan kesehatan fisik, ketersediaan ongkos dan fasilitas pendukung untuk menunaikan ibadah haji. Pengertian istatha'ah yang hanya fokus pada kemampuan dan kesempatan individu dibangun atas dasar bahwa seruan haji sangat erat kaitannya dengan "panggilan Allah". Tidak ada urusan mengenai jalur yang ditempuh. Entah itu haji kuota atau non kuota. Membatasi kesempatan berangkat haji, tidak lain merupakan tindakan "melawan" arus yang digariskan syariat.

Kenapa Harus Ada Kuota? Pertanyaan ini wajar, mengingat durasi waiting list di beberapa daerah di Indonesia terlalu panjang. Namun membuka pintu lebar-lebar tanpa kuota mengundang banyak permasalahan. Pertimbangan dan alasan dilakukannya kuotahaji antara lain sebagai berikut:

  1. Konsep istatha'ah sebagaimana kriteria di atas juga mencakup soal kepanitiaan yang disiapkan dalam pelaksanaan haji. Konsekuensi dari pengertian ini, pada gilirannya membatasi orang untuk melaksanakan haji. Sehingga perjalanan haji hanya bisa ditempuh melalui jalur kuota yang disediakan pemerintah. Dalam hal ini adalah Kementerian Agama RI. Penetapan kuota justru untuk mewujudkan kriteria istatha'ah yang tertera dalam ayat dasar pelaksanaan haji. Karena istatha'ah tidak hanya berkaitan dengan individu, akan tetapi kondisi serta pertimbangan pemerintah sebagai ulil amri yang sah, juga menentukan ukuran istatha'ah pelaksanaan haji. Oleh karenanya, ketika tidak terlaksana dengan baik, maka pelaksanaan haji tidak masuk dalam kategori istatha'ah.
  2. Pernyataan Ketua Lajnah Daimah Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang mengatakan tidak sah untuk melakukan haji tanpa izin haji. “Membantu para peziarah untuk memasuki tempat-tempat suci tanpa izin haji bertentangan dengan hukum dan penguasa, dan orang-orang yang melakukan haji tanpa izin haji melakukan hal yang melanggar hukum,” kata Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dalam sebuah pernyataan yang didistribusikan oleh Gubernuran Makkah.
  3. Untuk menjamin keselamatan jamaah dan mendukung tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk tujuan tersebut dengan cara mengurangi kepadatan selama ibadah haji.
  4. Kuota penting bukan hanya untuk mengendalikan massa tapi juga untuk merencanakan layanan yang diperlukan. Kita tentu tidak menginginkan kejadian di Mina tahun 1983 terulang bukan?

Untuk meminmalisir jumlah jamaah haji non kuota, sebenarnya tidak terlalu sulit. Hanya membutuhkan komitmen institusi pengelola haji melalui peningkatan koordinasi. Lemahnya koordinasi ini nampak dari ucapan Zakaria Anshar, Konjen RI di Jeddah, yang mengatakan bahwa sebenarnya keberadaan jamaah haji non kuota ini bisa dihentikan pada saat pemeriksaan dokumen keimigrasian oleh petugas imigrasi di bandara Indonesia.Namun dia menyangsikan kesiapan Imigrasi melakukan penyetopan jamaah haji non kuota.

Selain itu untuk mengakomodir jumlah jamaah yang terus bertambah, tak ada salahnya Kementerian Agama melakukan koordinasi dengan Arab Saudi agar kuota haji tahun depan menambah kuota dan menyetop pemberian visa di luar kuota yang resmi.

Dengan langkah-langkah di atas, dan sosialisasi yang gencar tentang haji kuota, diharapkan cerita terlantar, derita dan gagal berangkat jamaah haji non kuota tak kan terulang. Namun bagaimanapun hidup adalah pilihan. Masih berminat menjadi haji sandal jepit?

Minggu, 30 Oktober 2011

Semoga Komodo Bukan Komoditas Politik


Masih ingat 'gladiator'? Ia merupakan salah satu film favorit saya. Masih terekam dalam benak saya, ucapan Commodus Patricide, tatkala bermaksud mengurangi pengaruh Senat Romawi, dengan pernyataannya, "Berikan pada rakyat apa yang mereka sukai. Maka mereka akan menyerahkan hatinya padamu".

Commodus
tentu bukanlah raja yang bijaksana. Terlihat dari kedengkiannya pada Maximus Decimus Meridius, seorang Jendral Besar di Roma, masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius, hingga rela mengotori tangannya dengan melakukan pembunuhan secara brutal terhadap keluarga Maximus. Maka memberikan pada rakyat apa yang mereka sukai, akan mengalihkan perhatian rakyat pada kelemahan yang dia miliki. Dan karena rakyat Romawi saat itu adalah pecandu gladiator, maka kompetisi gladiator tingkat negara pun rutin digelar. Memperebutkan piala Kaisar tentu saja.

Ajakan untuk mendukung komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban baru dunia sudah terdengar lama. Namun frekwensinya baru terasa gempita satu bulan belakangan ini. Terlebih Sidomuncul melalui penampilan para artisnya , rutin mengisi tayangan iklan layanan umum di televisi. Berbagai slogan pun akrab di telinga.

"Dukung Komodo, Ketik Komodo kirim ke 9818" "Vote for Komodo" Bahkan yang paling heroik, "Dukung RI: Ketik KOmodo kirim ke 9818, Gratis...!"

Siapapun boleh mendukung komodo. Tak ada satupun undang-undang yang melarangnya. Namun kiprah para aktivis (mantan) politik dalam hal ini patut dicermati. Mirip saat hajatan piala AFF 2010 kemaren. Sebelumnya tak pernah ada dukungan masyarakat yang begitu besar terhadap kesebelasan nasional Indonesia. Namun gelaran kemaren menuai dukungan dari seluruh lapisan, tak peduli kaya ato miskin, artis, pegawai, pelajar, pengangguran, politikus bahkan pejabat, tumplek blek memenuhi stadion gelora.

Melihat animo masyarakat yang begitu besar, politikus pun mulai berhitung. Sesumbar Nurdin Halid (meski belum pasti juara) bahwa keberhasilan timnas Indonesia menembus final adalah andil Partai Golkar, memancing reaksi dari lawan-lawan politiknya. Maka dimulailah babak baru. Episode menggulingkan Nurdin. Semua berebut untuk menempatkan orangnya pada pucuk kepemimpinan PSSI.

Sama halnya dengan gempita piala AFF kemaren, saat ini masyarakat Indonesia sedang ephoria untuk mendukung Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. Tanpa bermaksud untuk menilai keikhlasan mereka dalam mengkampanyekan dukungan pada Komodo, namun Komodo telah menjadi isu besar. Isu nasionalisme. Dan sejak dulu , isu nasionalisme dekat sekali bahkan beririsan dengan isu politik.

Berikut aktivitas beberapa tokoh nasional maupun lokal yang terlibat aktif dalam mengkampanyekan dukungan terhadap komodo, secara kronologis sebagai berikut:
  1. Jusuf Kalla, mantan wapres RI, saat ini menjadi vote getter dan duta besar pulau komodo. Bapak yang masih cekatan ini bahkan langsung bergerak cepat dengan menggandeng tiga operator besar untuk menurunkan tarif sms dukungan dari Rp1000 menjadi Rp1.
  2. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI, dalam sela peresmian Bandara Internasional Lombok mengajak seluruh menteri di jajaran kabinetnya dan publik untuk ikut mendukung Komodo masuk dalam nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonders. Caranya dengan vote SMS 9818 untuk semua operator.
  3. Mahfud MD dengan gaya khasnya berkata, "Kita sudah mendukung semua agar Komodo masuk ke tujuh keajaiban dunia. Pak Jusuf Kalla juga sudah bagus menjadi Duta Komodo, saya kira bagus," kata dia di Gedung MK, Jakarta, Kamis malam 6 Oktober 2011.
  4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai Barat (Mabar), melalui ketuanya Mateus Hamsi, S.Sos dalam sidang paripurna DPRD, Kamis (20/10/2011). meminta masyarakat untuk mengirimkan sms ke nomor 9818 sebagai bentuk dukungan untuk komodo masuk dalam new seven wonders.
Bagaimana tanggapan orang asli NTT? Berikut hurek dalam blognya berpendapat:

  • Pentingkah status komodo sebagai keajaiban dunia?
"Bisa penting karena komodo dan pulau-pulau sekitar, khususnya Flores dan NTT, bakal jadi jujukan wisatawan dunia. Makin banyak turis, tentu saja ekonomi di NTT bisa meningkat. Angka kemiskinan yang tinggi, predikat NTT sebagai Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu, bisa perlahan-lahan hilang".
  • Bagaimana bila tidak menang?
"andaikata tidak berhasil, si komodo ini tetap saja binatang purba yang hanya ada di bumi Indonesia. Dan itu sudah suatu keajaiban dunia, tanpa perlu pemungutan suara, polling SMS, mobilisasi e-mail, dan sebagainya. Masih banyak cara untuk mempromosikan komodo tanpa harus terjebak permainan pihak-pihak tertentu di luar negeri yang punya kepentingan bisnis di balik proyek 'keajaiban dunia' itu."
  • Bagaimana dengan metode pengiriman SMS untuk menentukan pemenang?
"Lucu juga kalau status 'keajaiban dunia' diperoleh dari jumlah SMS. Kalau SMS-nya kurang, status 'keajaiban' itu hilang, digeser daftar lain yang mungkin kalah bobot dibandingkan binatang purba bernama komodo itu".
  • Bagaimana perasaan anda melihat gencarnya dukungan pada komodo?
"Sebagai orang NTT, saya tentu saja sangat bangga melihat kampanye besar-besaran untuk si komodo. Sejak jadi provinsi sendiri pada 20 Desember 1958, komodo menjadi lambang NTT. Tapi, anehnya, orang-orang NTT sendiri hampir tidak pernah melihat langsung binatang komodo itu. Kecuali tentu saja penduduk Pulau Komodo, Rinca, Labuan Bajo, dan sebagian Kabupaten Manggarai".
  • Mengapa begitu?
"Karena di NTT tidak ada kebun binatang. Komodo-komodo itu biasanya dikirim untuk koleksi kebun binatang di Jawa, Sumatera, atau luar negeri. Saya sendiri, yang asli NTT, pertama kali melihat komodo justru di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur".
  • Bagaimana respon Pemda NTT dalam mengelola 'keajaiban dunia" ini?
"Pemda NTT sendiri setahu saya sejak dulu kurang optimal menjadikan Pulau Komodo dan sekitarnya sebagai pusat wisata unggulan NTT. Baru-baru ini saja setelah ada proyek 'keajaiban dunia' baru ada geliat".

Komodo, The New Pemersatu Bangsa?


Gegap gempita pemilihan tujuh keajaiban dunia yang baru (The New 7 Wonder of The World) memasuki babak baru dalam ruang publik di Indonesia. Melalui kampanye Ketik Komodo,kirim ke 9818, masyarakat pun berbondong-bondong memberikan pulsanya sebesar satu rupiah dari sebelumnya Rp.1000 per sms.

“Kita mendeclaire, nanti mulai Satu (15/10/2011) pukul 00.00 WIB, tarif SMS seluruh operator sudah menjadi Rp 1,” ujar JK dalam acara jumpa pers yang digelar di kantor PMI, Jakarta, Jumat (14/10/2011).

Dalam beberapa kali kesempatan Jusuf Kalla yang didaulat menjadi duta besar Pulau Komodo sangat getol memasarkan dan mempopulerkan dukungan terhadap komodo. Langkahnya begitu agresif ketika menggandeng dan bekerjasama dengan 3 operator seluler utama di Indonesia (Telkomsel, Indonesat, dan XL) untuk mengurangi biaya SMS Premium 9818 dari Rp1000 menjadi Rp1 agar masyarakat tidak diberatkan dengan dukungan ini.“Cukup ketik komodo, kirim ke 9818,” kata JK berulang kali. Tugas mantan Wapres RI ini cukup berat. Ia harus memperjuangkan Pulau Komodo menjadi satu diantara 7 keajaiban dunia baru. Penentuannya dilakukan oleh panitia kecil New7Wonders dalam final yang rencananya akan dihelat pada 11 November 2011 mendatang.

Siapakah New7wonders ini? Yang aksi globalnya melakukan pemilihan tujuh keajaiban dunia yang baru begitu menyedot perhatian publik. Termasuk Indonesia. Bahkan presiden SBY pun tak ketinggalan. Di sela-sela acara resmi kenegaraan, peresmian Bandara Internasional Lombok, SBY menyerukan seluruh menterinya di jajaran kabinet dan masyarakat untuk ikut mendukung Komodo masuk dalam nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonders. Cukup dengan vote SMS 9818 ke semua operator.

Adakah kepentingan tersembunyi New7wonders dalam kontes kali ini? Keuntungan macam apa yang kita peroleh sekiranya Komodo benar-benar masuk dalam kategori tujuh keajaiban dunia yang baru. Lantas berapa lama Komodo berhak menyandang gelar sebagai satu dari tujuh keajaiaban dunia, kalau kemudian untuk jangka waktu tertentu akan diadakan kontes serupa? Dan kenapa harus komodo? Bukankah banyak jenis hewan lainnya yang berhabitat cuma di Indonesia macam Orang Utan, Anoa, Maleo, Cassiopeia ornata, Tripedalia cytophora, Mastigias papua dan Aurelia aurita. ?

Sekedar mengingatkan saja, Pemerintah RI pernah berantem dengan Yayasan New7Wonders pada awal Pebruari 2011. Saat itu Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, sempat merasa diancam oleh Yayasan New7Wonders untuk menyetorkan uang senilai US$45 juta atau lebih dari Rp400 Milyar agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah final kontes ini. Permintaan uang itu disertai ancaman pencoretan Pulau Komodo jika Pemerintah Indonesia tidak bersedia.

Rumor sepihak ini langsung dibantah oleh New7Wonders secara resmi dalam situsnya. New7Wonders bahkan menuding pemerintah RI wan prestasi, lamban dan tidak produktif.

Entahlah siapa yang benar. Tapi fakta bercerita pada kita tentang perselisihan yang menguap begitu saja, entah kemana. Dan Komodo pun menjadi satu dari 28 finalis.

Bukan dengan pemerintah RI saja New7Wonders bermasalah. Salah satu finalis New7Wonders, Maladewa, resmi menyatakan mundur dari kompetisi. Mereka menarik diri karena mahalnya biaya lisensi dan paket sponsor yang diminta panitia penyelenggara New7Wonders. Pengumuman ini dipajang di situs resmi pariwisata pemerintah Maladewa.

Pemerintah RI sendiri sampai sekarang belum pernah berterus terang, berapa biaya yang harus dikeluarkan seandainya kemudian Komodo ditetapkan sebagai satu diantara tujuh keajaiban baru dunia. Namun bila merujuk kepada Maladewa dalam situs resminya, biaya yang mesti ditanggungnya agar masuk sebagai finalis terdiri atas point-point sebagai berikut:

1. Sponsor Platinum dengan biaya lisensi sebesar US$ 350 ribu atau sekitar Rp 3 miliar
2. Dua biaya lisensi sponsor emas masing-masing US$ 210 ribu atau sekitar Rp 1,8 miliar
3. Sponsor dari acara 'World Tour' dimana Pemerintah maladewa harus membayar untuk delegasi orang untuk mengunjungi negara, menyediakan wahana balon udara panas, perjalanan bagi wartawan, penerbangan, akomodasi, komunikasi dan biaya lain.
4. Biaya lisensi untuk penyedia telekomunikasi nasional untuk berkampanye dalam New7Wonders sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 8,8 miliar. Namun angka itu akhirnya menurun setelah dinegosiasikan menjadi US$ 500 ribu atau sekitar Rp 4,4 miliar
5. Biaya lisensi untuk penerbangan Maladewa yang nantinya akan menampilkan logo pada pesawat sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 8,8 miliar.

Minimal Rp18 M harus dikeluarkan Maladewa. Itupun belum termasuk poin no 3.

Bagaimana dengan kita? Benarkah biaya yang harus kita tanggung minimal sama dengan Maladewa? Wallohu A'lam. Namun Irwan Hidayat sendiri, bos Sido Muncul yang ikut memberikan hibah dalam bentuk promosi layanan publik sebesar 2M sebagai bentuk dukungan kampanye komodo, tidak berani menampilkan logo Sidomuncul dalam tayangan iklan PSA (public Service Advertisement)nya .
"Sebab, kalau pakai nama perusahaan, maka kita harus membayar kepada Yayasan New 7 Wonders sebesar Rp 1 miliar," ungkap Irwan kagi.

Selain fakta tentang transaksi ekonomi yang mulai terlibat dalam penentuan finalis, aroma dagang sapi tersebut semakin mengental karena tidak transparannya dan konsistensi penentuan ranking finalis. Dari 28 finalis, sebanyak 16 tempat menurun jumlah dukungannya. Termasuk Maladewa dan Pulau Komodo. Sementara sisanya terlihat meningkat jumlah dukungannya ekonomi cukup kental tercium dari perhelatan tujuh keajaiban baru dunia ini.

Selengkapnya ke duapuluh delapan finalis tersebut sebagai berikut:

New7Wonders of Nature Finalists Map

Pemerintah RI sendiri sebenarnya cenderung untuk mengikuti langkah Maladewa. Sebagaimana penuturan Bob Assegaf dari Forum Wartawan Pecinta Komodo yang mengatakan setelah berselisih paham dengan pemerintah RI, yayasan New7Wonders kemudian menggandeng aktivis LSM di Indonesia. LSM yang bernama Pendukung Pemenangan Komodo (P2K) pun berdiri dibawah komando Emmy Hafild, yang kemudian menjadikan JK sebagai vote gather SMS dukungan Komodo.

Lantas bagaimana dengan lembaga resmi PBB, UNESCO yang jauh lebih berwenang dalam hal ini. Melalui situsnya, UNESCO menyatakan:

"In order to avoid any damaging confusion, UNESCO wishes to reaffirm that there is no link whatsoever between UNESCO's World Heritage programme, which aims to protect world heritage, and the current campaign concerning "The New 7 Wonders of the World".
This campaign was launched in 2000 as a private initiative by Bernard Weber, the idea being to encourage citizens around the world to select seven new wonders of the world by popular vote.
Although UNESCO was invited to support this project on several occasions, the Organization decided not to collaborate with Mr. Weber."

Bagaimana dengan komodo sendiri. Benarkah bahwa penetapan komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia akan memperbaiki kualitas hidup komodo? Ini perlu ditanyakan , karena berbagai kampanye vote for komodo, selalu menyajikan tentang manfaat ekonomi yang diperoleh Indonesia terutama penduduk lokal , sebagaimana pernyataan berikut dalam sebuah situs :

"Jika Komodo sukses menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia, maka dapat dipastikan, akan terjadi multy player effect terhadap kehidupan masyarakat. Secara umum, Indonesia semakin memperkukuh posisinya di mata dunia sebagai negeri yang alamnya kaya dengan eksotisme yang menantang untuk dikunjungi. Sementara itu, penduduk Pulau Komodo dan masyarakat di Nusa Tenggara yang selama ini dikenal sebagai kawasan berpenduduk rata-rata masih di bawah angka kemiskinan, akan terimbas dan terdorong kehidupan ekonominya, karena kunjungan orang-orang berduit dari manca negara berdatangan ke sana. Dan sudah tentu, juga akan terjadi perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur dari pemerintah pusat ataupun karena bantuan dunia, sehingga hal itu akan memicu aktivitas peningkatan kegiatan ekonomi rakyat."

Untuk mengetahui apa yang paling dibutuhkan komodo, tentu saja tidak perlu melalui sensus dan mendatangi komodo satu persatu sambil menanyakan pada mereka, "bagaimana perasaan anda jika menjadi mahluk yang terkenal di dunia?". Cukuplah menggunakan pendapat para peneliti Komodo dan antropolog , salah satunya adalah Prof. Putra Sastrawan.

Peneliti Komodo sejak tahun 1969 yang juga mantan Pembantu Rektor III Universitas Udayana ini menyatakan , " Yang paling dibutuhkan Komodo saat ini adalah konservasi, bukan justru mempopulerkannya, apalagi lewat SMS macam audisi idol. Komodo sudah populer sejak diterbitkan pada jurnal ilmiah dunia pada tahun 1912. Statistik Kehutanan menyebutkan 95% pengunjung pulau ini adalah orang asing. Artinya, di luar negeri, pulau ini sudah populer".

Selain itu, diperlukan adanya penguatan stake holders di sekitar habitat Komodo dalam bentuk konsistensi menjaga habitat komodo. Putra menegaskan pentingnya hal ini karena adanya penurunan jumlah populasi Komodo sejak penelitiannya tahun 1969 sampai dengan tahun 2000-an. Pada survey periode 1969-1970, jumlah Komodo yang tersebar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Flores mencapai 5.500 ekor. Pada survey tahun 2000-an, jumlahnya tidak kurang dari 3 ribu ekor.

Kritik sangat keras terlontar dari Prof. Dr. Laurentius Dyson guru besar Antropologi Fisip Universitas Airlangga. Menurutnya, tidak etis jika Presiden ikut berkampanye untuk kepentingan New7Wonders yang notabene adalah lembaga swasta. “Lagi-lagi masyarakat dieksploitasi dengan diajak kirim SMS untuk mendukung sesuatu yang tidak jelas manfaatnya,” kata dia.

Jumat, 28 Oktober 2011

Back to blogspot.com


Setelah beralih menjadi juliantosupangat.co.cc, dimulailah tahap paling menggairahkan dalam dunia perbloggeran saya. Bukan dengan menambah posting baru, tapi mencari widget dan memasangnya agar setidak-tidaknya mirip website profesional laiknya detik.com, kompas atau media cyber lainnya.

Untuk memanjakan pengunjung agar betah berlama-lama, widget Related Article menjadi garapan pertama. Lama juga untuk membereskan episode ini. Browsing dan install by trial n error menjadi suatu rutinitas. Hampir seharian kuhabiskan untuk memasangnya, mengujinya, lalu membongkarnya kembali. Tanpa bermaksud mengabaikan jerih payah pemosting Related Article, namun kebanyakan rekomendasi mereka gagal total ketika diterapkan pada theme yang kusuka. Kebanyakan copy paste kali ya, sehingga tak jelas mana yang sudah diuji coba pada blog mereka dan berhasil. Hal ini terlihat dari tampilan blog mereka yang tak juga terpampang artikel terkait sebagaimana mereka rekomendasikan ke pembacanya.

Hari menjelang ashar baru kutemukan tutorial yang mantap surotap-rotap. Mungkin takut kali ya,karena kunyatakan sumpah palapa dalam hati: Kalo tutorial tentang artikel terkait ini gak berhasil saya pasang, sumpah selamanya saya gak akan pasang!

Kelar artikel terkait, lanjut untuk mengotak-atik menu side bar. Kutambahkan feedjit yang selain sebagai pemanis juga berfungsi untuk menelusuri asal pengunjung, browser yang digunakan dan kata kunci yang dipakai sehingga dapat menemukan blogku. Kelak kata kunci mereka akan kutambahkan dalam keyword meta tag ku. Harapannya seh moga makin kenceng aja tu mbah Google menjalankan tugas mulianya.

Sampe malam aktivitas nyaloni blog tak juga berhenti. Kali ini kupasang hitstat. Counter untuk menghitung jumlah pengunjung, online visitor dan lamanya mereka menjelajahi blogku. Kelar dalam waktu singkat. Terakhir kupasang Alexa. Widget ini berguna untuk mengetahui kedudukan blog kita di tengah belantara perbloggeran. Bila ranking anda dalam kisaran 30 juta-an, itu berarti masih ada waktu bagi anda untuk menaikkan rangking blog hingga turun dalam kisaran ratusan ribu. Bila nilai alexa anda stabil di kisaran 30-jutaan , jangan patah semangat. Anda jauh lebih berprestasi dari saya. Lihat saja blog ini. Tidak ada data. Artinya masuk kategori 30 juta saja tidak. Tapi saya tak menyerah. Tak putus asa. Kan masih baru...? Kataku dalam hati menyiapkan alasan pembenar.

Pagi sehabis subuh, kubuka pelan-pelan situs ini. Berharap dah ada pengunjung baru. Lalu mereka tertarik dengan tulisanku, berkomentar, dan mungkin mau menjadi pelanggan setia. Tapi nihil. Feedjit dan histats tak menampakkan kabar gembira. Iseng kuketikkan : juliantosupangat.co.cc pada kotak pencarian google. Hasilnya nihil. Blogku gak ditemukan. Artinya jangankan pengunjung , lha wong pemiliknya sendiri gak berhasil menemukan di mana posisi blogku di belantara google.

Rasa penasaran membawaku untuk browsing. Dan...juederrrr....Ini sambaran geledek kedua yang kuterima dalam dua hari ini. Kutemukan juga hot news dari teman-teman blogger yang memakai domain gratis co.cc, bahwa mulai tanggal 30 juni 2011, Google telah menghapus semua blog dengan domain co.cc serentak. Sehingga tak aneh jika blog saya yang menggunakan domain co.cc tidak terindeks sama sekali di Google pencarian. Istilah dunia perbloggeran, blog saya dalam status deindex atau kena sandbox.

Ada seh kabar gembira sedikit dari pengelola domain co.cc. Untuk menenangkan gejolak hatiku, ia berkata:


Administrator
(2011-07-01 14:35)
Hello. We already contacted with Google and are discussing as to the de-indexing. The matter seems to be fixed very soon. I think that you can index your own co.cc domain if you make a request at Google. Please visit here www.google.com/webmasters/ and add your own co.cc domain at "Add a site" area.

Nasihat beliau telah saya jalankan. Dan hasilnya malah memperpanjang masa inkubasi kekecewaan saya.
Saya selaku blogger yang belum mapan, tentu masih harus perlu bantuan mbah google untuk mendatangkan pengunjung baru. Itu berarti hanya ada satu pilihan bila saya masih menghendaki menggunakan layanan gratis dan tetap terindeks oleh Google.

Pilihan itu adalah kembali ke blogspot. Kembali ke: juliantosupangat.blogspot.com.
Saya harap pilihan ini tidak menjadikan anda kecewa karena harus menuliskan deretan huruf yang jauh lebih panjang. Hidup blogspot! Hidup gratisan..!

Kamis, 27 Oktober 2011

Pindah Alamat Domain co.cc

Ada yang baru di blog ini. Coba tebak? Yup! Benar! Setelah lama ngendon di matjoel.blogspot.com, terhitung mulai 28 Oktober 2011 bertepatan dengan sumpahnya para pemuda tempo dulu , berubah menjadi juliantosupangat.co.cc

Narsis? Hii...takut..., Sekilas memang nampak narsis dan kepede-an. Siapa sih kamu? Begitu mungkin yang ada di benakmu. Saya memang bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa dan tak ingin mendapatkan apa-apa. Perubahan ini murni hanya untuk memudahkan saya pribadi. Memiliki banyak blog dengan nama yang beragam bukan tindakan bijaksana. Kadang untuk masuk ke dashboard saja lupa bingung harus menggunakan user name apa dan password yang mana. Maklum bukan profesional blog yang mampu menyewa admin dan writernya sekaligus. Blog yang banyak mungkin karena masih berkutat pada proses pencarian diri. Syukurlah nyadar sendiri. Untuk fokus pada satu blog pribadi.

Awalnya adalah ketidaksengajaan , ketika hendak mencari plugin untuk security blog. Terpampang di layar searching google, tips n trik untuk pindah alamat dengan menggunakan domain co.cc. Langsung otak meresponnya dengan gairah yang meluap. Kuikuti satu persatu langkah untuk mengubahnya. Ups! selesai sudah.

Tinggal menunggu beberapa jam kemudian untuk melihat perubahan itu. Tak sabar, kubuka Mozilla dua jam kemudian. Jeder! Bagai disambar geledek, muncul peringatan dari mbah gogle, situs gak bisa dibuka. Ada tuduhan telah terjadi penyalahgunaan layanan sesuai persyaratan gogle. Kubuka situs lain yang berakhiran blogspot.com. Idem. Muncul peringatan yang sama. Kubuka juga blogspot lain teman punya. Sama.

Mulai khawatir neh, jangan-jangan blogku yang gak seberapa ini dibanned google. Emang sih tulisannya hanya seupil. Tapi historynya itu yang aku eman. Blog ini didaftarkan pada 2008 lalu. Dan itu adalah harga yang sangat mahal bagiku. Tetap terasa beda blog yang kedaftar 2008 dengan mendaftarkan baru 2011.

Malamnya kucoba lagi dengan harap-harap cemas. Nihil teman! Masih muncul peringatan yang sama. Ya nasib, maksud hati ingin narsis, apa daya blogku malah gak eksis.

Sampai pada pagi hari berikutnya. Kubuka blogspot milik teman. Syukur ada respon. Langsung kuketik : juliantosupangat.co.cc . Apa yang terjadi saudara-saudara? Blogku eksis! Hidup narsis!

Kalo diantara kalian yang pengen mo ngerubah alamat blogspot nya daftar dulu di co.cc. Ada tiga pilihan untuk daftar domain, yaitu Managed DNS, Zone Records, dan URL Forwarding. Opsi Zone Records paling pas bila blog kalian berekstensi blogspot.com. Ikuti petunjuknya sampai dapat akun berupa nama domain yang kamu inginkan.

Langkah selanjutnya yaitu merubah settingan di blogger/blogspot caranya begini:
  • Login ke blogger/blogspot kemudian masuk ke menu "Setting-->Publishing"

  • Kemudian pilih "Switch to: • Custom Domain

  • Setelah itu klik pada "Already own a domain? Switch to advanced settings"

  • Kemudian isikan nama domain kamu yang baru pada kolom "Your Domain".


  • Selanjutnya klik tombol "Save Setting"

Selesai. Kalau berhasil (Settingnya sudah benar) maka domain kamu yang baru akan aktif dalam waktu antara beberapa jam sampai 2 hari.
Selama dalam durasi tersebut bila kamu coba akses blogmu yang baru atau akun blogger lainnya akan muncul peringatan dari google, dan blogspot tidak bisa diakses. Tenang saja. Perbanyak doa. Perbanyak sedekah.

Kalo blogmu yang baru dah dapat diakses jangan lupa bersyukur. Undang saya makan-makan. Kalo tempatnya dirasa jauh, transfer saja mentahannya. Hii..3x

Rabu, 26 Oktober 2011

Alamak....Lupa..!

Satu kata yang pastinya akan ditolerir bukan cuma oleh manusia saja bahkan Tuhan sekalipun, adalah 'lupa'. Bedanya adalah Tuhan tak pernah marah bila memang kelupaan seseorang karena sebab yang tidak disengaja. Bulan puasa kok minum kopi pagi-pagi. Eih lupa..! Dan Tuhan pun hanya tersenyum. Jangan coba-coba kalo kita tahu bahwa kita lupa, namun masih saja tak mau berhenti dengan kelupaan itu. Bulan puasa kok makan siang? Wah sumprit..lupa.! Tapi lupa kok habis satu piring? Pakek acara nambah lauknya pula! Hilang sudah senyum Tuhan.

Tapi manusia bukanlah Tuhan. Untuk setiap kelupaan kita, mesti dibarter dengan umpatan, cemberut , makian, ataupun luapan kemarahan.
"Sumpah Bu, PR dah saya kerjakan. Cuma lupa gak kebawa", kata seorang siswa dengan muka memelas minta diampuni. Tanpa ampun lagi bu guru menukas, "Lha udel mu kok gak pernah lupa, dibawa kemana saja..!

Lupa ibarat penyakit menular. Bila dipelihara akan merembet pada kelupaan yang lain. Lupa tidak posting-posting, akhirnya begitu jari-jari dah siap menari di atas keyboard, kacamata dah plug n play di telinga, pikiran dah lama bergumul dengan kata-kata, siap memuncratkan amunisi kalimat, mendadak semua buyar. Batin hanya bisa bertanya, passwordnya apa ya? Kok gak bosen-bosennya Om Blogger bilang: user name and password doesn't matching.

Syukurlah Om Blogger masih menaruh harapan yang besar buat saya (GR dikit napa seh..). Beliau berbaik hati memberikan saya kesempatan kedua. Sekali pencet, link untuk membuat password baru pun terbuka. Sempurna..!., kataku dengan memutarkan lima jari dan pergelangan tangan mirip acara sulap di TV.
Ntar kalo lupa lagi, berikan saya kesempatan ketiga ya Om. Keempat juga, kelima. Dan seterusnya.

Maka jadilah tulisan ini sebagai apresiasi buat Om blogger dan wujud kegirangan saya dah balik mosting lagi setelah vakum lama.

Rabu, 02 Februari 2011

Sengaja Tanpa Judul




Jangan terpaku pada judul. Kalimat ini singkat. Mengagetkan. Karena muncul dari lisan seorang yang setiap hari selalu berpikir ilmiah. Kaget? Tentu saja.




Judul bagi saya -seorang yang saban harinya berkutat dengan angka-angka-
adalah ungkapan laen dari 'target'. Tanpa target , dapat dibilang orang itu dah mati. Tanpa target, tak ada ukuran sukses bagi perusahaan. Tak ada dampak bonus ikutan, tak ada jasa produksi. Tanpa target , orang akan lupa tujuan perjalanannya. Tanpa target, orang tak kan pernah sampai tujuan. Benarkah?

Jangan terpaku pada judul. Itu kalimat yang keluar, tatkala saya selaku mahasiswa bimbingannya mohon bantuan pendapatnya, judul apa yang pantas disematkan untuk belasan lembar proposal yang saya buat. Jujur saya mengalami gegar kosakata, tatkala harus memilih padanan kata "Information Technologi Agility". Pantas nggak kalo diterjemahin Ketangkasan IT, ato Kecerdasan IT, atau yang satu ini nih: Kegesitan IT. Secara substansi saya mengerti benar dengan istilah yang dibuat penulisnya. Tapi begitu mencoba memindahkannya ke lingkup lokal, terjemahan apa yang paling pas untuk menggambarkan kecepatan IT dalam merespon setiap perubahan lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Bingung aku..!

Nah , Jangan terpaku pada judul, begitu katanya berulang. Kalo semua energimu kau kerahkan hanya untuk memikirkan seuntai kata paling atas dalam tulisanmu, dengan tujuan agar orang tertarik, maka tunggu sampai tempomu habis. Dan kau tak akan pernah puas dengan diksimu.

Tidakkah kau belajar dari seorang Putu Wijaya. Untuk beratus-ratus lembar kertas tulisannya, untuk beribu-ribu kata yang tumpah dari moncong penanya, dan untuk berjuta huruf yang selalu berulang, dia hanya perlu meneriakkan satu kata saja untuk mengemas semua karya kreatifnya. Ya..., hanya satu kata. Ya, cuma satu kata, tegas Hari Murti dalam Adegan.

Dalam kilas balik tiga jam sebelum kudengar 'Jangan terpaku judul' , kuhitung berapa lama aku memikirkan sebaris kalimat yang tepat untuk menggambarkan pemahamanku tentang suatu ilmu. Terbelalak otakku ketika rekaman waktu yang dibutuhkan dalam pencarian judul terpampang dalam ingatan. Busyet.., 4 jam!

4 jam yang belum tuntas. Karena masih saja saya nggak puas dengan judul pilihanku. Makanya begitu sesi mbolak-mbalik lembar usulan penelitianku kelar dia lakukan, secepat lahar dingin Merapi membanjiri jalanan Magelang, kutanyakan keikhlasannya mengganti judulku.

"Untung..., bila kau belum menemukan kalimat yang tepat untuk seonggok sampah ilmiahmu, itu berarti kamu belum memahami apa yang hendak kamu kerjakan. Substansi ilmunya saja tak kau ketahui. Bagaimana mungkin kamu bisa menuliskan alamat tempat tinggalmu, bila substansi ilmu yang menjadi rumahmu saja tak pernah kau pahami?"

Hari ini aku mendapat pelajaran penting. Banyak orang terpaku pada judul. Hingga lupa pada substansi. Banyak orang fokus pada tetenger, kehormatan dan kebanggaan hingga lupa untuk apa dirinya diciptakan. Fokus pada judul boleh jadi hanya bikin amburadul!

Jumat, 28 Januari 2011

Kota tumpangan




Apa arti sebuah kota bagimu? Kalo itu ditanyakan pada sebagian besar orang, mungkin jawaban terbanyak akan mengerucut pada memori kota kelahiran.


Setiap dari kita memiliki kenangan terindah tentang hal ini. Apalagi buat mereka yang sejak lahir sampe dewasa tidak pernah berpindah kota, entah untuk bekerja ato sekolah. Tapi buat kaum nomaden (dan saya termasuk salah satunya) membandingkan kota kelahiran dengan ribuan keping peristiwa didalamnya dengan kota yang harus disinggahi karena tuntutan pekerjaan bukanlah perkara mudah. Pekerjaan yang tersedia di kota-kota tertentu (maksudnya tak semua kota memiliki kantor perwakilan/cabang perusahaan tempat kita kerja) mengharuskan kita untuk menetapkan pilihan kota mana yang terbaik untuk membesarkan anak-anak kita. Dan sekali keputusan diambil, maka rentetan konsekuensi dibelakangnya mengikut dengan setia.

Bagi anak-anak, kota pilihan kita harus terpaksa dinikmati tanpa ada penolakan. Mereka mulai membangun komunitasnya sendiri. Kesibukan kerja dan aktivitas telah melenakan kita pada suatu titik kenyataan bahwa kota pilihan itu adalah kota yang menjadi memori perilaku dan pikiran anak-anak. Hanya cerita masa lalu yang kita timpakan pada benak mereka, anak-anak kita, tentang romantisme masa kecil kita. Sungai yang jernih, listrik yang minim, media visual yang terbatas hingga kenakalan khas tempo dulu yang tak pernah lagi menjadi bayangan anak kita.

Sampe di sini kita merasa bangga dengan kota pilihan orang tua kita. Kota yang menjadi tempat tumbuh kembang kepribadian dan mental kita. Pertanyaannya tentu saja: apakah rasa bangga itu juga muncul pada anak-anak atas kota yang dipilihkan orang tuanya untuk mereka gauli. Untuk mereka nikmati?

Sidoarjo, adalah kota yang kami putuskan sebagai lahan mendidik anak. Alasannya sederhana. Lokasinya berada di pertengahan antara Jawa Tengah , tempat lahir saya, dengan Sulawesi Tengah , tempat lahir istri saya. Begitulah anak-anak tumbuh dan menemukan keasyikannya sendiri. Teman-teman yang semakin banyak. Lingkungan yang tidak asing. Dan kebanggaan pada pernak-pernik yang melekat di kota ini. Deltras Sidoarjo juga lumpur panasnya. Mereka terlihat mulai mencintai kotanya.

Tapi saya pesimis bisa menumbuhkan kebanggaan itu secara permanen. Ritual mudik setiap tahunnya menyadarkan mereka, bahwa masih ada kota lain yang lebih lekat historinya dengan ayah ibu mereka. Lekat dengan merahnya darah dalam tubuh mereka. Keyakinan yang menggoncangkan jiwa mereka akan adanya kenyataan bahwa Sidoarjo bukan apa-apanya mereka. Bukan kota kelahiran mereka. Bukan kota orang tua mereka. Tak ada sanak tak ada keluarga. Dan saya yakin sekiranya Tuhan melimpahkan umur panjang pada saya dan istri yang menetapkan pindah ke kota kelahiran salah satu dari kami, akankah mereka : anak-anak itu mengunjungi Sidaorjo? Bila saja kehidupan dewasa mereka adalah kota yang berbeda?

Ternyata, kami sekedar numpang saja. Makan dan tidur di sini. Sedih rasanya tak bisa memberikan kebanggaan tentang kota memori pada mereka. Penerus aliran darahku.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More