Semoga Komodo Bukan Komoditas Politik

Masih ingat 'gladiator'? Ia merupakan salah satu film favorit saya. Masih terekam dalam benak saya, ucapan Commodus Patricide, tatkala bermaksud mengurangi pengaruh Senat Romawi, dengan pernyataannya, "Berikan pada rakyat apa yang mereka sukai. Maka mereka akan menyerahkan hatinya padamu".

Haji Sandal Jepit

Bingung? Istilah ini mulai populer ketika musim haji tiba. Kalau anda mendengar pemberitaan koran yang ramai-ramai mewartakan adanya jamaah haji yang gagal berangkat melalui biro perjalaan haji, maka mereka yang gagal inilah yang ditempelkan kepada mereka sebutan 'haji sandal jepit'.

Orang Jawa Punah

Tidak sebagaimana suku-suku lainnya yang ketat mengadministrasikan garis keturunan melalui nama keluarga, farm atau marga kayak suku Batak, Minangkabau, Minahasa, Ambon, Timor, Nias, Dayak dan Toraja, jarang keluarga Jawa yang menadministrasikan dengan baik silsilah keturunannya.

Panitia Qurban (jadi) Korban

Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Panitia Qurban (jadi) Korban

Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2016

Rutinitas Yang Mematikan

Pernah liat kompetisi robotika? Disana para peserta adu riya' robot kesayangan miliknya.  Robot, sekumpulan benda mati elektronik yg didisain untuk selalu merespon secara konsisten perubahan lingkungan yang dihadapinya.  Creator robot berusaha menjejalkan di otak robot segala kemungkinan tentang perubahan lingkungan.  Mereka tak ingin robot tak memiliki kamus keadaan yg tak bisa mereka antisipasi.  Karena lingkungan adalah sesuatu yang maha tak terhingga, maka disainer robot berusaha menciptakan hanya sebagian kecil lingkungan yang dikenal manusia.  Dengan konsep ini maka lahirlah robot dengan spesialisasi khusus, tergantung lingkungan yg dikehendaki. Maka jadilah robot yg bermacam2. Ada robot pemadam api, penjinak bom, dancer, pemungut sampah, penyapu jalan hingga robot pemain bola.
Kreasi ini meski banyak kekurangan namun tampak mengagumkan buat sebagian besar orang.  Sambil pada saat yg bersamaan, timbul perasaan khawatir robot akan mengambil alih profesi manusia bahkan kemanusiaan itu sendiri.
Kekhawatiran yg dangkal dan berlebihan pikir saya sambil manggut2 lesehan diserambi masjid kantor.
Tak perlu takut robot mengambil alih pekerjaan manusia, toh kita juga yg diuntungkan.  Bukankah pekerjaan kita akan semakin ringan?  Disaat gaji pembantu rumah tangga meroket, maka alat elektronik yg meringankan rutinitas kerumahtanggaan kita sebenarnya adalah robot. Mesin cuci, magic jar, dispencer dan kawan2nya adalah robot.  Tak perlu khawatir kan?
Justru kekhawatiran harusnya bergeser ketika kita sadari bahwa kitalah robot sebenarnya.
Bagi anda para pekerja, apapun level jabatan anda.  Sebenarnya anda adalah robot yang sebenarnya.  Bukankah anda rutin pagi2 berdesak2 an dijalan hanya karena takut finger print terlambat? Anda korbankan waktu bercengkerama dengan anak istri hanya karena takut dipotong gaji dan tunjangan? Bukankah pekerjaan anda dari waktu ke waktu tak pernah berubah? Bukankah anda juga pulang tatkala yg lain pulang untuk kemudian berjejalan lagi di jalan menuju pulang?
Kalau jawaban anda adalah 'ya' jangan marah kalau sekarang anda adalah robot yang sebenarnya!
Selamat berkarya wahai robot2 ku yg ganteng dan cantik2...

Senin, 15 Februari 2016

Menulis itu gampang?

Yups! Siapa bilang menulis itu gampang. Satu-satunya yg bilang gitu pastilah motivator yg kelangsungan hidupnya ditunjang dari workshop dan seminar. Logikanya sederhana: kalo menulis itu gampang, maka tak banyak orang rela meluangkan waktu dan menguangkan dompetnya utk pelatihan berdurasi 5 jam-an. Memang begitulah workshop atau seminar. Kalo orang sdh pintar2 maka motivator sekelas bang Mario pun bisa beralih profesi.
Menulis itu mudah kok! Ini pasti kata saya. Soalnya lebih pada penggiringan opini, kata batin anda. Kalo judulnya menulis itu gampang padahal dalam kenyataannya anda mengalami kesulitan, sdh pasti anda akan berlama-lama mempelototi kiat2 apa yg hendak ditawarkan hingga berani2 nya saya bilang kalo menulis itu gampang.
Menulis itu gampang kawan!
Tinggal buka laptop ato gadget pintar anda. Lalu ketikkan sembarang huruf, mau dimengerti ato tidak, sy hrs mengucapkan selamat pada anda.
Selamat anda telah menjadi penulis!

Sabtu, 16 Februari 2013

Rampal, Pusat Kebugaran Rakyat

Lapangan Parade Rampal Tepat jam Enam pagi
Siapa yang tak kenal Rampal?  Kalau pertanyaan ini ditujukan pada saya satu tahun yang lalu, maka telunjuk ini tak kan malu-malu mengacungkan dirinya.  Bagi orang di luar Malang, Rampal adalah nama yang asing.  Tapi tidak bagi aremania.  Orang sering menyingkatnya lapangan Rampal.  Meski sebenarnya tidak sesingkat itu.  Nama panjangnya adalah Lapangan Raaaaaaaaammmmmmmppaaaaaaaaaal.  Tergantung anda mau sepanjang apa dia.  Hi..3x weleh-weleh.
Nama resminya sesuai KTP adalah Lapangan Parade Brawijaya Rampal Malang.  Tercatat sebagai aset Kodam V Brawijaya.  Dikelola oleh Kodim 0833 Kota Malang.  Dan terakhir, ini bagian yang paling menarik, ia adalah jujugan utama saya saat berkunjung ke Malang.
Hampir tiap pagi saya selalu mengelilinginya.  Bukan untuk membuktikan kebenaran luasnya yang ngaudubillahi sampai 1,5 km2 namun sebagaimana banyak dilansir media internasional, hanya untuk menurunkan berat badan pada kondisi ideal sesuai tuntutan peran yang akan saya mainkan bareng Penelope Cruz.
13610113401127466699
Jalan utama gerbang timur selatan
Melangkahkan kaki pagi hari di sini sangat eksotik.  Oksigen murni bebas kita hirup.  Sejauh mata memandang hanya warna hijau yang tampak.  Bener-bener hijau.  Mungkin ini yang menginspirasi, hingga muncul sebutan Apel Malang untuk mengidentikannya dengan rupiah.
Setiap jam enam pagi , setiap saya melangkah memasuki pintu gerbang, setiap kali itu pula saya selalu melihat petugas kebersihan merampungkan rutinitasnya.  Taruhan, anda tak akan menemukan sampah berceceran di sini.  Hatta daun sekalipun.  Untuk menampung aspirasi sampah pengunjung, petugas telah menyediakan 15 buah tong sampah beton berdiameter 50 cm.  Semuanya seragam.  Warna kuning.  Entah siapa sponsornya.  Mengelilingi jalan protokol beraspal Rampal Stadium dengan jarak yang sama.   Serba teratur, khas tentara!
13610115132090021638
Pohonan tinggi menambah kesan hijau lapangan
Jalan beraspal yang halus bagai karpet sangat memanjakan pejalan kaki.  Lebar 15 meter adalah jaminan tak kan ada tabrakan antar pejalan kaki.  Kita bisa menghitung berapa kilo sudah kita melangkah.  Indikator jarak terukir di pinggir lapangan setiap 10 meter, membantu kita berhitung berapa kalori sudah terbakar.  Tapi peduli amat pada kalori, karbo dan sebangsanya.  Pikiran itu akan terlupakan dengan suguhan pepohonan tinggi di sebelah lapangan.  Pohon-pohon yang tampak bijaksana saking tuanya, berderet rapi, mengepakkan rantingnya, melindungi terobosan sinar mentari, juga tembakan rintik hujan.  Malang identik dengan hujan.  Jadi kalau anda beruntung anda akan melihat landscape biru, badan gunung Arjuno dan Panderman disebelah barat dan utara Lapangan.  Jangan lupakan kamera untuk mengabadikan momen yang belum tentu kita jumpai setiap paginya.
Sebagai pusat kebugaran rakyat, Rampal melengkapi dirinya dengan banyak fasilitas.  Bagi anda yang ingin berbody Ade Rai, tak perlu khawatir.  Sederet tools untuk body building tersedia lengkap dan cukup.  Perut Ramping?  Tinggal sit up saja dengan alat bantu di dekat pintu gerbang.  Pull Up?  Tinggal loncat saja kalo sampe di tiang-tang besi yang berjajar rapi.  Otot kaki tegang?  Pijat aja dengan deretan batu beragam rupa yang berderet bak gigi ketimun.  Ingin uji ketahanan jantung?  Jogging track yang teduh, sejuk dan penuh aneka bunga menemani putaran nadi.
13610116681866958977
Jogging Track bak taman surgawi (emang pernah ke sana?)
Bagi penghobi olahraga mainan, tersedia banyak pilihan.  Dua lapangan tenis lapangan, dua lapangan bola utama, 5 lapangan bola ukuran sedang, dua lapangan basket, lapangan voli, bulutangkis.  Sarana jitu untuk mencari kawan baru.
Bagi yang hobi berkebun, tak perlu resah.  Di sisi barat lapangan rampal, di atas lahan yang dulunya kosong, terhampar tanaman jagung dan ketela, cabe, tomat dan temannya bayam.  Benar-benar multitasking.  Buat olahraga juga berkebun.  Tanaman penguat struktur tanah juga tak ketinggalan berkontribusi.  Deretan pohon trembesi merindangi pinggir lapangan.  Sejuk dan hijau.  Tanaman buah melengkapi kesempurnaan harmoni.  Pohon mangga, jambu biji dan air seolah tak rela satu centi pun lapangan Rampal kosong tiada guna.
13610118231772985072
Kebun singkong tunggu panen.., mana tahan…!
Apalagi yang hobinya upacara.  Rampal adalah surganya.  Tiap tanggal 17 setiap bulannya, para tentara berupacara.  Campur dengan pegawai sipilnya.  Namun sayang tak semua tentara hobi upacara.  Nampak dari komitmen sebagian diantara mereka yang terlambat menyambut seruan komandan upacara.  Sebagian berjalan tergesa, sebagian setengah berlari menuju barisan, sebagian lagi pasrah merasa tak akan sampai.  Maka alternatifnya adalah bikin barisan sendiri di kanan kiri mobil yang diparkir di ujung utara.  Entah kedispilinan yang mulai luntur atau karena memang tak pernah ada lawan yang akan membuatnya selalu waspada.  Seandainya saja masih ada Provinsi Timor Timur…
Kembali ke laptop kawan…,
1361011931426495916
Piranti pendadaran tentara
Saya berani bertaruh, jogging track yang mengitari lapangan utara, akan meninabobokkan anda, para pencari keringat, untuk terus berputar dan berjalan.  Pohon ganyong yang berdaun lebar, dengan bunga kuning dan orange, selalu berada di kanan kiri pe-walker.  Napas yang seharusnya berhenti untuk diisi, seolah menemukan tenaganya kembali.  Otot yang biasanya kejang di awal perjalanan, tak terasakan lagi, berganti dengan perasaan lega dan nyaman diteduhi pohon trembesi.
Sepanjang langkah, pejalan kaki disuguhi dengan peralatan latihan militer.  Ada kolam dengan tali yang terjuntai, melatih para tentara untuk tidak kalah dengan tarzan.  Balok kayu bersusun tiga, melatih tentara untuk tidak kalah dengan Usain Bolt, pelari sprint dunia.  Patok kayu setengah meteran yang terhubung satu sama lain dengan kawat berduri, melatih tentara untuk lihai merayap.  Pokoknya semua alat untuk melatih kelincahan dan fisik tentara ada di sini.  Namun sayang.  Balok-balok itu kalah dengan rintik gerimis dan titik hujan.  Mulai lapuk di sana-sini.  Andai pertandingan macam ninja warrior kayak di TV itu digelar di sini, Rampal sudah pasti makin mendunia.   Apalagi ditunjang dengan keberadaan deretan warung kuliner yang berbaris  di luar lapangan.  Setia menunggu pembeli.
1361014447452450889
Setia hingga akhir, menunggu pembeli
Lapar ?  Tinggal lompat pagar.  Haus tinggal julurkan tangan.  Sebotol susu kedelai panas-panas akan menyambut anda.  Penjual minum asong sudah begitu paham hukum ekonomi.  Dalam waktu tak sampai 2 kali pemilu lagi, Rampal akan dipenuhi pedagang kaki lima.  Tantangan buat Kodim 0833 selaku pengelola.
Singkat kata, keringat yang menetes berbanding lurus dengan lemak yang tergelontor.  Bila anda kitari 3 kali saja, itu setara dengan 4 kilometer telah anda lalui.  Berapa kalori yang telah terbakar?  Tidak perlu aplikasi Go Pedometer untuk menghitungnya.  4 Kilo setara dengan 40 menit untuk the walker macam saya.  Maka bila per menitnya terbakar 5,5 kalori, ha…ha..per minggunya saya turun dua kilo. Wow……!  Mau?
Empat hari seminggunya saya selalu putari Rampal.  Aktivitas ini sudah berjalan 2,5 bulan.  Maka berkilo-kilo pulalah lemak saya hilang.  Tiga bulan lalu saya timbang 89 kilo.  Dan sekarang saatnya nimbang.  Syukurlah …Alloh kabulkan usaha keras saya.
Bobot saya sekarang 92 kilo!
Lho?  Itu pasti gara-gara Pak Koswara.  Lelaki sunda yang telah merantau seantero nusantara adalah biang keladinya. Cukup mudah menemukan Pak Koswara di Rampal ini.  Tempat nongkrongnya tepat di depan gerbang timur selatan.  Setiap the walker pasti melewatinya.  Karena ia adalah penjual tahu dan tempe goreng terenak yang pernah saya temui.  Bukan cuma di Malang, tapi juga di Jawa Timur.
Dialah alasan logis satu-satunya.  Karena setiap tetes keringat yang saya keluarkan, berganti dengan lima tetes minyak tahu dan tempe yang saya masukkan.
Ingin gemuk?  Ayo ke Rampal!
13610145821230869260
Insya Alloh kembali lagi
Note:  Semua foto adalah dokumen pribadi.

Sumber: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/16/ingin-gemuk-rampal-tempatnya-534773.html

Mengapa Tema ‘Politik’ Lebih Diminati

Coba anda cermati tampilan Home Kompasiana.  Arahkan pandangan anda pada kolom Tulisan Terbaru, HighLight atau pun Trending Article.  Tulisan dengan tema apa yang paling mendominasi?  Yuups.., anda benar!  Politik..!  Oleh karena itu jangan kemana-mana, tetaplah di Kompasiana, karena saya akan menuliskan alasan-alasan kenapa tema politik digemari kompasioner.
Berikut hasil investigatif ngawur saya yang cenderung memihak dan tendensius:
1. Selalu uptodate!
Tema politik tak pernah ada matinye. Tak kenal musim hujan dan kemarau. Tak peduli musim durian atau tembakau. Sumber ide tentu dari headline media. Bandingkan bila anda harus menulis dengan tema lain. Maka kompasioner pun bergairah, panas membara, karena selalu duduk pada media yang menjadi kompornya. Tema yang berbanding lurus dengan semua kanal media baik cetak atau elektronik semakin memancing keingintahuan pembaca untuk mendalami suatu kasus tertentu. Kompasioner pun dengan cerdik membungkus, analisis-analisis yang biasanya bersumber dari pengulangan ulasan para pengamat politik dengan judul-judul yang bombastis, memancing kompasioner lainnya untuk mengkliknya. Lihat saja ketika kasus PKS muncul, bisa dibilang tema-tema yang lain langsung tenggelam kalah cepat juga kalah jumlah. Efek positifnya, kompasioner yang mulai jenuh dengan tema politik mulai mengarahkan mousenya ke tema-tema yang sepi peminat dan berat.
2. Budaya Ngrumpi
Budaya ini diklaim sebagai budaya perempuan Indonesia. Tapi bila anda jeli, penulis tema politik didominasi kaum adam. Adam yang sesungguhnya. Bukan Adam Inul. Apakah ini pertanda bahwa sebenarnya budaya ngrumpi adalah budaya universal? Tidak terbatas pada gender tertentu? Atau barangkali pengaruh metroseksual, sehingga para pria jaman sekarang bukan hanya pesolek tapi juga perumpi? Lebih jauh lagi, coba anda klik tulisan dengan komentar terbanyak. Maka para komentator itu , sebagian besar diantaranya adalah lelaki. Pas dengan tagline coklat kesukaan anak saya: Panjaaaaaang dan laaaaaamaaaa…itulah Laki-laki!
3. Motif Ekonomi
Bagi profesional, pergerakan tema politik menjadi ladang ekonomi yang menggiurkan. Pengamat politik muda saling bergantian menghiasi kaca depan televisi anda. Selain terkenal (investasi politik yang sangat penting di masa depan) juga amplopnya kenyal. Perlu proses panjang bagi mereka untuk bisa tampil dan memberikan pendapatnya. Pengamat yang paling sering diundang, tentu saja pengamat yang bisa melahirkan komentar yang benar-benar beda. Unik. Orisinil. Dan kalo perlu sedikit kontroversial. Mereka telah menginvestasikan ribuan jam tidur mereka dengan melek’an membuka lembar-demi lembar teori politik, histori kelompok ataupun perorangan, memikirkannya hingga lupa mandi, merenungkannya hingga tak gosok gigi, lalu menuliskannya. Ya tulisan adalah prasasti abadi pemikiran. Maka seorang pemimpin akan dikenang sepanjang masa bila mampu meninggalkan jejak pikirannya dalam bentuk tulisan.
4. Politik Kepentingan
Media adalah alat yang paling ampuh untuk merebut hati rakyat. Sudah sejak jaman romawi patron ini dipahami. Inilah mungkin alasan yang paling masuk akal kenapa Hari Tanoe, selepas keluar dari Nasdem, diperebutkan banyak pihak. Bagi yang memiliki keterbatasan modal mengakses media, apalagi media elektronik, maka media gratisan macam kompasiana adalah surga. Kurang 14 bulan lagi helatan akbar lima tahunan digelar. Maka perang pun dimulai. Dari yang sekedar promosi ataupun pencitraan , hingga black campaign menghiasi setiap tema politik yang dibahas. Pikirnya, kalo gak sekarang kapan lagi? Mumpung gratis…
5. Serangan Balik
Bagi lawan politik, setiap tulisan yang menjerumuskan atau menyerang parpolnya adalah tantangan. Loe jual, Gue Beli. Maka pembelaan silih berganti dari pihak yang pro dan kontra selalu terbit setiap menitnya. Akibatnya tema-tema politik terjebak dalam arus berbalas pantun. Pembaca pun disuguhi tema politik membela diri. Ada semacam hak jawab yang harus ditunaikan, bila suatu tulisan memuat hal yang miring tentang partainya.
Saya tidak skeptis ataupun pesimis. Dari kelima alasan itu, ada satu yang membuat saya tetap optimis. Gairah penulis politikkompasioner.
Mudah-mudahan kelak, saat saya menonton tivi ada pengamat yang memperkenalkan dirinya, saya pemerhati politik dan saya adalah…..Kompasioner!

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/mengapa-tema-politik-lebih-diminati-kompasioner-533532.html

Idiopatic Trombositopenia Pupura

Mestinya bukan begitu penulisannya, tapi begitu cara bacanya.  Orang bahkan sering menyingkatnya hanya dengan ITP.   Bagi awam kayak saya, I adalah Idiopatic, artinya tak diketahui penyebabnya, Trombitopenia ya ada kaitannya dengan trombosit tentunya, sering diterjemahkan sebagai kondisi dimana trombosit dalam keadaan minimalis.  Pada orang yang normal, trombosit berada dalam rentang 150.000 sampai 350.000 per mikroliter.  Pada penderita ITP jumlah trombosit kurang dari 15.000 per mikroliter.  Jangan percaya kalo saya katakan trombosit saya saat itu cuma 1.000 per mikroliter.  Saya sendiri juga gak percaya.  Tapi begitulah dokter bilang, sambil menepuk-nepuk pundak dengan tak lupa membesarkan hati, “Banyak-banyak berdoa ya diik..”  Nah terakhir P adalah Pupura, artinya bintik atau bercak kebiruan kayak luka memar habis dipukul.
******
Hari itu, Rabu 26 Desember 2007 adalah hari yang mengherankan sekaligus istimewa.  Di ruangan poli spesialis kulit sebuah rumah sakit umum milik pemerintah , tempat di mana saya mengeluhkan munculnya bintik hitam yang muncul di lengan dan lidah, tersaji sebuah pergumulan yang tidak seimbang.  Seharusnya satu pasien, duduk berhadapan dengan satu orang spesialis kulit.  Begitulah yang ada dalam bayangan saya.  Satu lawan satu, dokter dan pasien.  Tapi yang tak terduga adalah rombongan co-ass nya.  Lebih dari 12 dokter-dokter muda itu mengepung saya.  Berebut hendak melihat lengan, memegangnya bahkan meminta saya membuka rongga mulut untuk membuktikan kebenaran kabar tentang adanya bintik hitam di lidah dan gusi saya.
Risih juga menerima perlakukan tak terduga macam itu.  Lha wong bukan selebritis kok dirubungi.  Macam gula saja dikerubuti semut.  Tapi yah apa boleh buat.  Saya kan cuma seorang pasien.  Dari sudut pandang manapun seorang pasien selalu diposisikan sebagai objek.  Dan selama 15 menit dikeroyok bercampur dengan ‘intimidasi medis standar’ seperti : sejak kapan menderita, riwayat keluarga, penyakit turunan, keluhan fisik,  pendarahan, aktivitas harian, pola makan dan gaya hidup de el el, hasilnya adalah selembar kertas yang berisi coretan untuk merujuk saya ke ahli planologi, eh patologi klinis.  Itu lho bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh.  Alamaak, batin saya berteriak.  Habis dari patologi klinik kira-kira mau dirujuk ke mana lagi ya?  Mudah-mudahan bukan kamar jenazah!
Pikiran saya patut berontak.  Kali pertama saya datang memang bukan di poli spesialis kulit.  Tapi Poli Gigi.  Itu berkaitan erat dengan perdarahan yang keluar dari sela-sela gigi.  Tidak terlalu mengucur sih, namun tetap saja mengganggu.  Karena ia menggumpal kayak sisa makanan yang nyangkut di gigi.  Bila gumpalan ini dibersihkan, darahpun kembali mengucur.  Dokter bilang ada salah satu gigi saya yang patut dijadikan tersangka.  Karena ada dua alat bukti yang cukup kuat untuk menetapkan gigi tersebut sebagai tersangka.  Pertama, karena disitulah darah berasal.  Kedua, gigi tersebut goyang, tidak menancap kuat kayak tetangganya.
Saya sudah bersiap membuka mulut dan dokterpun sudah menyiapkan catut dan pencongkel gigi.  Macam tahanan di kamp penyiksaan, dokter sudah menyentuhkan catutnya.  Ada perasaan tak enak saat itu.  Saya pun minta penangguhan pencabutan.  Kuperlihatkan lidahku.  Bintik hitam itu ternyata membuat dokter mengurungkan niat eksekusinya, dan tanpa kuminta ia pun merujukku ke poli kulit.
Ternyata nasib adalah pikiran itu sendiri.  Apa yang kita pikirkan maka itulah nasib kita.  Dokter spesialis patologi klinik pun pada akhirnya meminta saya datang esok, setelah sebelumnya membuat catatan beberapa tes yang harus saya lalui di laboratorium.  “Jangan ke sini tanpa hasil tes “, pintanya tegas.
******
Malam belum larut, dan hati galau juga tak surut.  Semakin petang, bukan cuma bintik yang bertambah.  Namun frekuensi pendarahan juga semakin sering.  Istri berinisiatif membawaku ke dokter umum.  Dokter askesku.  Hanya sekilas dia melihat lengan dan lidah, memandangku dengan agak cemas.  Menuliskan sesuatu.  Lalu berkata, “Bapak terindikasi ITP.  Ini rujukannya.  Pergilah ke Poli spesialis dalam.  Jangan ditunda.  Pendarahan bapak sudah parah..”.
Saya bersyukur.  Sangat bersyukur.  Orang mungkin heran.  Lha wong dikasih sakit masih sempat-sempatnya bersyukur.
Saya patut bersyukur.  Tuhan telah mengirim seorang dokter umum untuk saya.  Yang dengan penjelasannya telah menenangkan saya.  Yang dengan diagnosa singkatnya telah mempercepat perawatan medis saya.
Dan lagi-lagi saya wajib bersyukur.  Yang dengan skenarionya Tuhan telah menyelamatkan gigi saya.

Sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/02/12/idiopatic-trombositopenia-pupura-indah-di-dengar-tak-indah-di-rasa-533492.html

Selasa, 05 Februari 2013

Eksotisme di Tengah Ketidakpedulian: Ironi Candi Pari

1360070397745446979
Plang satu-satunya di dunia ttg Candi Pari (dok:pribadi)
Kayaknya media punya jalinan asmara yang sama. Seluruh kanal dibanjiri dengan hujatan dan koring (komen miring) pada sapi. Kasihan binatang satu ini. Terpaksa menanggung beban kambing. Yang biasanya menjadi andalan orang-orang ketika suatu target tak tercapai, ketika suatu rencana tak menjadi fakta. Maka kambing hitam pun hilang. Berubah menjadi sapi hitam.
Lupakan sejenak tentang sapi, maka minggu pagi kemarin menjadi pelampiasan. Nggowes yang kami rencanakan sehari sebelumnya menjadi momen-momen indah menghilangkan bosan dengan aneka kebencian dan hujatan. Tujuan kami saat itu cuma satu: Candi Pari. Situs Purbakala yang tak pernah kami duga, ternyata hanya berjarak tak lebih dari belasan kilometer saja. Bener tak pernah kami duga, kalo Sidoarjo yang telah kami tetapkan sebagai tempat tinggal kami, menyimpan sejuta cerita, mengabadikan begitu banyak legenda, dan menjadi saksi peradaban beratus tahun sebelum kelahiran nenek saya.
Maka perpancalan pun dimulai. Tepat jam 5.45 WIB episode sejarah nenek moyang pun mulai kami koyak. Keingintahuan Fatah, anak kedua , yang kebetulan hari itu menemani saya, sangat besar. Sebesar keheranan dan ketidaktahuannya kalo ternyata Sidoarjo memiliki situs candi. Disayangkan memang di usia 14 tahunnya, anak SMPIT Dafi tak tahu menahu tentang histori Sidoarjo. Wujud ketidakberhasilan Pemkab Sidoarjo (via Dinas Pariwisata tentunya) mensosialisasikan kekayaan wisata daerah sendiri. Hmm…
Kami mengambil jalur memutar. Melewati mbulak, jalan beraspal sempit yang kanan-kirinya menghijau, berhiaskan padi belia. Tumbuh subur tanpa diiringi kekhawatiran diterjang aliran liar lumpur lapindo. Sepasang petani suami istri mempertontonkan kolaborasi yang romantis. Si Laki mendorong sapi bermesin dengan sekuat tenaga. Perempuannya membungkuk sembari menusukkan tanaman padi belia. Orang-orang menyebutnya ‘tandur’. Noto Mundur. Bertanam sambil mundur. Filsafah kepemimpinan yang hakiki. Karena keberhasilan seorang pemimpin bukanlah dihitung dari lamanya menjabat, tapi keikhlasan untuk mundur setelah meninggalkan karya yang nyata. Setelah menciptakan genarasi penerus yang ia yakin bermanfaat. Sinar mentari meski masih berhemat seolah takut kehabisan stok, telah mampu memompa butiran air di wajah keduanya. Peluh sudah pasti membanjiri pipi, leher, dada dan ketiak yang terseka otomatis dengan kain lusuh yang membalut tubuh mereka. Sungguh keringat mereka adalah keringat kualitas satu. Tidak sama dengan keringat yang saya cucurkan. Karena keringatku lahir dari niat untuk menghilangkan gelonggong lemak yang mengitari pinggang dan paha. Sedangkan mereka lahir dari niat yang tulus untuk memberi penghidupan anak turunnya. Keberkahan luar biasa yang menjauhkan mereka dari sakit dan ketidakberdayaan.
Bagi awam yang pernah ke Borobudur, Prambanan, dan candi-candi sekitarnya, Candi Pari mungkin tidak begitu istimewa.  Susunan batu alam yang kokoh yang membentuk tubuh candi Borobudur dan kawan-kawan tak dapat dibandingkan keangkuhannya dengan tumpukan batubata merah yang membody Candi Pari.  Hamparan luas dan panorama view yang membalut Borobudur dan Prambanan jauh lebih eksotik dibanding dataran rendah seluas 13,55 x 13,44 meter bujursangkar yang mengurung Candi Pari.  Borobudur setinggi 34,5 meter tentunya lebih jangkung dibanding 13,8 m tinggi Candi Pari.  Apalagi soal aksesorisnya.  Dengan koleksi 1460 relief , 504 arca dan 72 stupa, Borobudur ibarat Goliath. Pada lokasi candi Pari hanya ditemukan 2 arca Siwa Mahadewa, 2 arca Agastya, 7 arca Ganesha dan 3 arca Budha.  Itupun semuanya telah disimpan di Museum Nasional Jakarta.  Jangan juga bertanya tentang perhatian pemerintah daerah setempat.  Banyaknya lumut yang menutup permukaan candi, pagar kawat berduri ala kowboy, serta jam buka yang tak tentu semakin meneguhkan sikap tak acuh pemda Sidoarjo.
Lantas apanya yang menarik?
Langsung saja saya bocorkan.  Keunikannya mas Bro dan Mbak Sis.
Tidak seperti candi-candi di tanah Jawa, Candi Pari lebih mirip tugu raksasa.  Pengaruh Campa sangat kental pada fisik candi.  Tambun dan kokoh.  Sekilas mirip dengan Candi Muara Takus di Jambi.  Dengan dominasi batu bata merah yang melilit badannya, melahirkan begitu banyak kekaguman dan pertanyaan.  Bagaimana merekatkan bata satu dengan lainnya?  Tanpa melibatkan semen apalagi besi untuk menopang tegaknya tubuh candi.
Kesan mistis langsung terasa begitu kita masuk  ke dalam bilik candi.  Ruangan persegi seluas 5 x 5 m2 tampak lengang.  Tampak bekas sajen bertaburan bunga yang layu merapat di dinding Timur.  Berlawanan dengan arah pintu masuk.  Beberapa patung kecil tak berkepala semakin menambah kesan seram.  Meski disiang hari sekalipun.  Ruangan bilik candi begitu terang pada pagi itu.  Lubang ventilasi yang mengelilingi candi mengalirkan udara sekaligus cahaya.  Kesan pengap pun sirna.
13600705511033097107
Puncak Candi Pari (Sumber: dokumen pribadi)
Tidak mudah untuk menemukan Candi Pari.  Tak ada papan nama sama sekali.  Gosipnya sih dulu di pertigaan tugu kuning dipasang plang yang mengarahkan pengunjung ke lokasi candi.  Tugu Kuning?  Ya semacam tugu untuk mengingat perjuangan Marsinah, buruh pabrik jam yang meninggal karena mempertahankan hak kaum buruh saat itu.  Pabriknya sendiri sudah musnah ditelan lumpur.  Tapi tugunya tetap berdiri kokoh seolah menantang lumpur lapindo untuk menenggelamkannya.
Tugu kuning sendiri tidak kami lalui.  Sensasi nggowes dengan jalurnya yang menantang memaksa kami membuat jalurnya sendiri.  Tidak terlalu ekstrim sih, namun memaksa kami untuk bertanya setiap kali dihadapkan pada dua pilihan jalan yang bercabang.
“Nderek tanglet Pak/Bu/Mas, Menawi badhe teng Candi Pari medal pundi nggih?”
(Numpang nanya pak/bu/mas, jalan ke candi pari lewat mana ya?).

1360070650530689958
Lumut memenuhi lantai sisi utara Candi Pari, Indah memang, namun menghancurkan..(Sumber: dokumen pribadi)
Tak perlu khawatir jawaban : Tak tahu mas….   Semua orang di area candi:Tanggulangin, Pamotan, Porong dan Candi Pari sendiri seolah terlahir sebagai guide yang baik.  Maka sensasi beriringan di pematang sawah, menerobos terowongan di sebelah sungai, serta menembus jalan di atas tol menghilangkan rasa pegal yang menyerbu otot kala pertama kali mancal.
Tak perlu bawa air minum cadangan.  Hukum ekonomi telah menyediakannya.  Sekitar candi ada penjual minuman, meski tak terlalu banyak.  Namun jangan harap bisa masuk areal candi tanpa perjanjian lebih dahulu.  Akibat terlalu percaya diri, kami harus menunggu 2 jam lamanya menunggu penjaga candi datang.  Kalaupun kami akhirnya berhasil masuk lokasi candi, bukan karena penjaganya datang, tapi karena penjual warung depan candi kasihan melihat kami yang kelamaan menunggu.  Sehingga tanpa diminta ia keluarkan dari kantongnya kunci untuk membuka selot pagar.  Ya ampun pak…, kok gak dari tadi sih..?
Awalnya saya menyangsikan kekuatan injak trap/anak tangga candi.  Batu bata bro?  Kuat nggak ya menopang 90 kg jasad ini?  Maka dengan hati-hati kulangkahkan kaki menuju pintu bilik utama.  Tak seperti candi di Jawa , anak tangga menuju pintu bilik candi tidak dalam satu garis lurus.   Tapi terbagi dua kiri dan kanan candi.  Persis panggung ketoprak , harus naik dari sisi kiri atau kanannya.  Semuanya batu bata.  Kecuali trap yang mengarah ke pintu bilik candi.  Sangat curam.  Perlu tenaga ekstra untuk melewatinya.
1360070856616696105
Sisi Selatan Candi Pari tak jauh beda dengan sisi utara , penuh hamparan hijau lumut (sumber : dokumen pribadi)


13600710041355253882
Sudut Tenggara Candi…, seandainya tumpukan batu bata itu masih utuh…(sumber : dokumen pribadi)

1360071121442544163
Sudut tenggara yang cantik, ada yang ingin bikin prewedding photo? (sumber: dokumen pribadi)
Meski beberapa kali direnovasi , terakhir diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika 1 Mei 2001, namun lumut tumbuh dengan nyamannya di setiap sisi candi.  Jangan salah, menurut penuturan penjual minuman yang membukan pintu candi, lumut ternyata hanya tumbuh pada batu bata hasil renovasi.  Batu bata asli buatan tahun 1371 masehi yang mendominasi dinding candi, tidak kena lumut sama sekali.  Mungkin pada tahun-tahun itu, tahun di mana Om Gajah Mada masih segar bugar, belum dikenal makelar proyek.  Belum ada fee atau komisi untuk kuota produksi batubata.  Belum ada gratifikasi…
13600712222046286705
Taman depan pintu bilik candi, lengkap dengan dua sejoli, sepeda cantik (sumber: dokumen pribadi)
Maka perpancalan ke Candi Pari Minggu itu, memberikan banyak pencerahan.  Ternyata nenek moyang kita adalah pembangun peradaban yang jenius.  Peradaban yang membuat bangga anak turunnya.  Peradaban yang membuat kita optimis bahwa korupsi bukanlah budaya asli milik sendiri.

Sabtu, 26 Januari 2013

Hamba Alloh Haram Nyumbang Partai

Menyongsong helatan akbar Pemilu 2014, KPU mulai unjuk gigi.  Draf Peraturan KPU tentang pengaturan dana kampanye partai politik sudah diselesaikan.  Nama penyumbang parpol harus jelas, tak pakai anonim.  Seperti yang sudah-sudah, banyak parpol mensiasati donatur gedhe dengan memecahnya menjadi ratusan hamba Alloh dengan donasi kecil. 

Maka persaingan pun tak fair.  Parpol besar dengan mudahnya menggelontorkan milyaran rupiah untuk menggerakkan mesin pendulang suara.  Parpol kecil hanya bisa gigit jari.

Tidak cukup sekedar melarang, KPU bahkan mewajibkan penyumbang di atas Rp. 30 juta untuk mencantumkan NPWP nya.  Agak berlebihan memang KPU kali ini.  Tapi harus diakui, inilah jalan terbaik untuk democracy fair play sekaligus memastikan bahwa dana parpol berasal dari sumber yang halal.  Bukan komisi macam Hambalang dan Wisma atlet.

Tapi kenapa hanya untuk yang Rp.30 juta ke atas saja yang diwajibkan melampirkan NPWP?  Kenapa tidak dibikin lebih luas lagi, misalnya Rp.1 juta ke atas?  Klausul Rp. 30 jt pakai NPWP pada akhirnya akan menjadi pintu masuk untuk akal-akalan parpol.  Sangat mudah bagi parpol untuk mencari orang yang bersedia dicatut namanya sebagai penyumbang.  Resmi atau pun tak resmi.  Setahu orangnya atau diluar sepengetahuannya.  Lha wong saat verifikasi dulu, betapa banyak orang yang tak tahu menahu kalau KTP nya dipinjam sebagai bukti dukungan ?

Maka parpol pun akan berhitung.  Setiap orang dianggap menyumbang Rp. 29 juta.  Cukup cari KTP saja.  Tak perlu NPWP.  Untuk merasionalisasi dana Rp. 10 M saja, cukup dengan 400 KTP!  Sangat mudah dan gampang bagi parpol.

Itu untuk dana yang diniatkan tercatat dalam pembukuan resmi Parpol.  Bagaimana dengan pengeluaran yang tidak melalui parpol?  Sudah jamak bagi calon legislatif untuk membiayai dirinya sendiri.  Mensosialisasikan dirinya dan bersaing dengan caleg lainnya dalam parpol yang sama.  Mempopulerkan dirinya sendiri secara otomatis juga mempopulerkan parpol yang bersangkutan.  Karena pemilu kita bukan memilih parpol, tapi mencoblos orang.  Maka akan sulit memisahkan mana dana parpol dan mana dana caleg.  Maka akan lebih mudah bagi parpol untuk mengeluarkan uang melalui individu si Caleg.  Toh yang akan diaudit nantinya adalah dana parpol, bukan dana Caleg.

Maka meski KPU sudah beritikad baik dengan menerbitkan draft tentang pengaturan dana kampanye partai politik, namun kenyataan di lapangan tidak akan jauh berbeda dengan pemilu sebelumnya.  Partai besar dengan mudahnya mengambil ruang publik untuk mengenalkan visi dan janji-janjinya.  Partai kecil sebagaimana lazimnya hanya gigit kaki.

Bagaimanapun sekedar niat baik saja tak cukup untuk membenahi ketimpangan demokrasi negeri ini.  Perlu komitmen pimpinan semua parpol untuk mentaati aturan main.  Sehingga kemenangan yang nantinya diraih adalah kemenangan yang bersih tanpa ada upaya untuk memanipulasi data dan dana.

Mungkinkah?

Mimpi kali ya...

Minggu, 29 Januari 2012

Pontianak, Tugu Khatulistiwa, dan Kedai Kopi Merapi

Masih ingat dengan Henry Mulyadi? Itu lho, supporter Indonesia yang saking kecewa melihat prestasi timnas sepakbola Indonesia, nekat masuk ke lapangan ketika pertandingan Indonesia vs Oman memasuki injury time. Dengan penuh percaya diri, ia meliuk-liukkan tubuh gemuknya berusaha menceploskan bola ke gawang Oman. Lantas, apa hubungannya Henry Mulyadi dengan Pontianak?

Tidak ada sama sekali. Kecuali hanya sekedar menunjukkan bahwa bila ditanyakan pada seorang Henry Mulyadi yang seorang penggemar bola kelas berat, singkatan Persipon, boleh jadi dia akan gelengkan kepalanya. Kalaupun ia menganggukan kepalanya, akan begitu banyak kombinasi yang muncul.

Persipon? Persatuan Sepakbola Indonesia pastinya, cuma Pon nya apa ya? Ponorogo? Pontianak, atau Ponariyo Astaman? Tak ada yang bisa memastikan. Tapi cobalah jalan-jalan ke jalan Pattimura Pontianak. Ada satu plang kecil bertuliskan Persipon. Saya menemukannya secara tidak sengaja kala hendak berburu barang souvenir dan jajanan khas Pontianak. Markas Persipon mudah ditemukan. Berbatasan langsung dengan kios penjual souvenir paling selatan.

Sebagaimana yang dilakukan pelancong lainnya, wajib hukumnya membawa oleh-oleh sebagai bukti otentik kita telah berkunjung ke suatu daerah. Sekedar foto saja tidaklah cukup selama Roy Suryo masih hidup. Karena mungkin saja foto kita yang aslinya melebihi 24 karat, kalo den baguse Roy bilang, foto ini telah direkayasa, maka hanguslah bangunan kepercayaan publik yang kita miliki.

Tidak adil memang rasanya menilai Pontianak dalam waktu hanya dalam hitungan hari. Namun harus saya katakan, pusat pertokoan Pontianak yang menaungi ratusan kios dan penjual nampak tertata rapi. Teratur bagaikan berbaris dalam bingkainya masing-masing. Satu kekurangannya mungkin (atau bahkan kelebihannya?) warna-warna yang membalut dinding bangunan itu seragam. Kusam! Sehingga bangunan yang sudah berumur itu tampak tidak terawat. Mengerikan bagi penyandang Nyctophobia (penyakit psikologis takut kegelapan). Namun sangat menantang dan prospektif bagi produser Dunia Lain, Rahasia Alam Gaib dan Pemburu Hantu.

Sudut Kota Pontianak dari Jendela Kini Hotel
 Kondisi bangunan dan suasananya yang mirip tahun 60-an inilah yang mungkin membuat penggemar kopi ketagihan.  Jangan berani cerita kalo sudah nyampe Pontianak kalo belum pernah cangkruk di kedai kopi Merapi.  Kopinya mungkin sama enaknya dengan kafe di kota anda, namun suasana kebatinan yang menyelimuti anda saat menyeruput kopi sudah pasti berbeda. Di kedai itu, anda akan mudah mencari kawan.  Tak ada sekat pangkat ataupun jabatan.  Semua membaur.  Tak peduli anda jenderal ataupun kopral.  Tak peduli anda pejabat luar biasa atau rakyat jelata.  Maka di pagi buta itu, dengan ditemani irama rintik hujan dan gelapnya gulita, kami pun bertukar nama dan deretan angka.  Rosihan Anwar, begitu bapak tua itu mengenalkan dirinya.  Orang-orang menyebutnya Pak Haji.  Usianya lebih dari 60.  Tapi jangan salah.  Topik apa pun yang anda tawarkan, selalu dia beli kontan.  Pengetahuan dan pendapatnya tentang berbagai masalah aktual negara ini menjadi peneman dan perekat perbincangan kami.  Seolah kami adalah teman lama yang baru bertemu setelah terpisah jarak dan kala.  Hati-hatilah dengan relasi yang dimilikinya.  Karena begitu mengenalkan profesi anda, langsung dia akan sebut nama yang menjadi tokoh di bidang yang anda tekuni.  Kedai kopi Merapi adalah jujugan wajib selain tugu katulistiwa di kota ini.  Dia tunjukkan pada kami kursi besi dimana tamu-tamu besar dan penting biasa duduk nyeruput kopi.
"Ini tempat Pangdam biasa duduk," tunjuknya pada kursi besi bulat warna merah.
"Dan ini bapak Kapolda," katanya sambil menggeser telunjuknya menunjuk kursi disebelah yang merah.
Tanpa dikomando, kami langsung geser pantat.  "Siapa tahu jadi kepala kantor,"gumam saya lirih.  Pak Sigit rekan dari Semen Gresik juga ikut bergeser.  "Siapa tahu jadi dirut Semen Gresik," katanya ringan.  Kami tertawa.  Semua terbahak-bahak.

Berharap tuah kursi Pangdam dan Kapolda (Ki-ka : Sugiarto, Sigit, Julianto, Ignatius, Rosihan Anwar)

Berniat pergi ke Pontianak, merencanakannya, dan mendarat dengan selamat di Bandara Supadio tidak serta merta menyadarkan saya bahwa Pontianak sangat istimewa.  Baru beberapa menit mengelilingi Packing Plant Semen Tonasa di kawasan Wajokhilir, Pontianak Utara, sengatan sinar matahari pagi terasa mencubit wajah dan kulit tangan.  Sebentar-bentar saya harus menyilangkan tangan melindungi wajah yang seolah terbakar.  Padahal baru jam sembilan pagi.  Kulit saya semakin gelap rasanya.  Sering saya terpaksa berlindung di samping dinding bangunan mencoba bersembunyi dari tikaman mentari.

Pabrik Pengantongan Semen yang dioperasionalkan PT. Semen Tonasa
 Barulah saya menyadari betapa istimewanya Pontianak.  Sengatan panas yang membabi buta sepenuhnya adalah kesalahan saya.  Salah karena saya berdiri di pertemuan Lintang Utara dan Selatan.  Tepat titik 0.  Posisi di mana matahari paling dekat dengan bumi.  Maka mengunjungi tugu katulistiwa wajib hukumnya.  Sebagai prosesi balas dendam atas panas yang saya derita.

Monumen Tugu Khatulistiwa
 Masyarakat Kalimantan Barat begitu bangga dengan keberadaan tugu khatulistiwa di daerahnya.  Lihat saja souvenir di jalan Pattimura.  Dominasi miniatur tugu menghiasi etalase setiap toko.  Bahkan lambang daerah provinsi juga dihiasi dengan simbol garis khatulistiwa.  Suatu kebanggaan yang tidak dimiliki tujuh provinsi lain yang wilayahnya dilewati garis khatulistiwa.  Semisal Provinsi Sulawesi Tengah.  Dalam perjalanan menyusuri Teluk Tomini tahun 1997, saya berkesempatan untuk singgah pada tugu khatulistiwa yang berada di tengah persimpangan jalur jalan Trans Sulawesi di Desa Sinei (sekarang Desa Khatulistiwa) Kecamatan Tinombo Selatan dengan jarak ± 105 dari kota Parigi (Ibukota Kabupaten).  Tidak sebagaimana saudara tuanya di Pontianak, keberadaan tugu ini sangat memprihatinkan.  Jangankan bangunan pelindung yang memperpanjang usia kayu penopang lingkaran simbol garis khatulistiwa, sekedar mengecat badan tugu pun segan.  Rumput liar tumbuh subur mengelilingi lokasi tugu.  Orang malas pesiar ke sana.

Memasuki bangunan tugu, saya disambut tiga orang pegawai dinas pariwisata.  Salah satunya ibu-ibu, yang dengan ramah mempersilakan mengisi buku tamu.  Ajaib, saya tidak ditarik sepeserpun tiket masuk.  Mungkin ini yang menyebabkan masyarakat tidak berbondong-bondong mendatanginya.  Halaman parkir hanya dipenuhi dua mobil rombongan kami.  Penyakit khas indonesia.  Gratis No, Bayar Yes! Tariklah kacis atas nama pemeliharaan dan operasional sepantasnya, maka saya yakin monumen tugu khatulistiwa akan merupakan wisata geografis dan alam yang menjadi destination utama.  Kami mengambil gambar bergantian.  Menggenggam dunia bergantian. Berpose di depan tugu ibarat menaruh dunia dalam genggaman.  Katanya.

Narsis Forever
Tetep Narsis The Series

Sabtu, 05 November 2011

Panitia Qurban (jadi) Korban


Alkisah satu bulan menjelang hajat tahunan ibadah Haji dilakukan, berkumpullah segelintir warga perumahan Mutiara Citra Graha yang kebetulan mau menyibukkan dirinya dalam kegiatan Musholla, hanya untuk membahas pembentukan panitia sekaligus persiapan untuk mengakomordir pelaksanaan warga perumahan yang bersedia untuk berkurban.

Tak bertele-tele, penunjukkan penanggungjawab didasarkan pada data historis. Artinya, orang yang dari tahun ke tahun kebagian ngurus pelaksanaan sholat, mulai dari cari penceramahnya, persiapan lapangan yang hendak digunakan, hingga penyiapan alat, maka untuk tahun ini juga ditetapkan menjadi penanggung jawab kegiatan yang sama. Begitu pula orang yang sejak dulu bertugas membeli hewan kurban, langsung ditetapkan menempati pos yang sama.

"Sudah pengalaman!", kata warga serempak.
"Serahkan pada ahlinya..!, yang lain tak kalah menimpali.
"Kita memang tak boleh ambil resiko dengan menaruh orang yang sama sekali tak mengerti dengan tugas-tugas mulia seperti ini", kata ketua takmir menengahi.

Jadilah panitia pelaksana kurban, dari tahun ke tahun tak pernah berubah. Inilah kalau panitia tak digaji. Semua orang berebut untuk..., menghindar! Beda sekali bila yang diperebutkan adalah jabatan dengan gaji tinggi dan segenap fasilitas yang menempel padanya. Tak kan ada alasan 'sudah pengalaman, sudah ahli, atau hanya sekedar meminimalisir resiko'.

Rapat pertama dan terakhir ini langsung ambil keputusan. Harga kambing per ekor termasuk biaya administrasi Rp1.025.000,- Sedangkan 1/7 bagian sapi Rp1.200.000,- sudah termasuk biaya administrasi. Untuk pertama kalinya, harga kurban baik kambing maupun sapi, menurun dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, kambing dihargai Rp1.200.000,- termasuk ongkos, sedang sapi Rp1.250.000,-. Luar biasa panitia kita. Di saat harga-harga melonjak naik, tarif berkurban malah diturunkan. Untuk memastikan penyembelihan hewan kurban terselenggara, rapat sekaligus menodong yang hadir untuk sukarela berkurban sapi. Jadilah malam itu satu sapi, urunan dari panitia yang hadir, berhasil dipastikan jadi kurban.

Tak pakai lama, surat edaran pemberitahuan dan himbauan untuk berkurban segera didistribusikan. Respon warga adem-ayem. Panitia pun nyaman. Idhul Adha tahun 2011 kali ini jatuh pada hari Ahad, 6 November 2011. Panitia telah merencanakan untuk membuat terpal pelindung hewan pada Jumat dua hari sebelum Idhul Adha.

Kamis sore datanglah satu warga menggiring satu kambing. Pak Yono salah satu takmir yang ketiban sampur tak dapat menolak kambing warga. Selepas sholat maghrib, tak seperti biasanya, ia mencegat langkah saya.

"Pak, ada kambing di rumah saya. Penginapannya di mana ya?" tanyanya penuh harap. Saya mengerti benar. Ada nada keberatan dalam pertanyaannya itu. Dan saya sebagai ketua takmir memang paling pantas sebagai tempat jujugan, meski dalam kepanitiaan kurban, saya hanya cheerleader saja.

Memang sih terpikir untuk dititipkan satpam perumahan. Tapi itu diluar kesepakatan dari yang seharusnya hari Jum'at. Lagian saat itu rintik dah mulai turun. Kasihan kambingnya. Tak ada tempat untuk berteduh. Beda dengan sapi, kambing memiliki daya tahan tubuh yang jauh lebih lemah. Kehujanan sepanjang malam, bisa membuatnya flu,batuk dan pilek. Padahal masih tiga hari lagi. Kalo mati? Siapa yang harus mengganti? Ini masalah besar! Dan harus segera diputuskan!

Usai sholat Isya, kami menunggu satu takmir lagi. Saya pikir kalo tiga orang yang memutuskan lebih kuat di depan hukum daripada dua orang yang kebingungan. Akhirnya keputusan pun diambil. Kambing ditaruh di musholla. Persis di tempat wudhu wanita, yang selama ini jarang digunakan. Marbot pun bersedia untuk membersihkan selepas kambing dipindah ke tempat yang seharusnya. Satu persoalan tuntas sudah! Meski sepanjang malam, hati saya dag dig dug. Kalo hilang siapa yang harus ganti?

Kandang kambing sudah dibuat. Kebanyakan warga menggiring kambingnya sendiri. Sikap ini mendapat dukungan penuh panitia. Tak perlu keliling cari kambing. Meski begitu ada dua warga yang menitip uang ke panitia. Jadilah Sabtu itu kita gunakan untuk berburu kambing. Alamak..., setelah puas berpusing-pusing (malay punya istilah neh) tak ditemukan satu pun penjual melepas kambing dengan harga Rp1 juta. Untuk ukuran yang paling kecil saja sudah Rp1,2 juta.

Syukurlah Alloh melihat usaha kami. Melalui tukang batu yang sedang merenovasi rumah tetangga, didapatlah info kalo dia pelihara kambing. Meluncurlah kami kesana. Untuk satu ekornya kena Rp950.000,- Alhamdulillah. Meski ukurannya sama dengan yang seharga Rp1,2 juta. Mudah-mudahan warga yang berkurban tidak kecewa. Melihat kambing lain yang dibawa sendiri oleh masing-masing pengkurban jauh lebih besar.

Inilah resiko jadi panitia! Resiko yang kemudian menjadi guyonan diantara kami.

"Ntar kalo pengkurban protes, kenapa kambingnya kecil, harus ada yang bersedia menjelaskan lho ya", ingat saya.
"Makanya kami pergi bertiga Pak", jelas Pak Sokeh yang mempunyai beban moral, karena kambing dibeli dari tukang batu yang merenovasi rumahnya.
Karena beban moral itulah mungkin yang membuat Pak Sokeh punya usulan antik. "Bagaimana kalo tahun depan, Sapi kita patok Rp1.250.000, - sedang kambing Rp1.500.000,- Pak?", katanya sambil ketawa-ketawa kecil.

Kurban kambing jauh lebih mahal dari Sapi?

"Ya Pak, dengan begitu semua orang pasti pilih sapi. Kalopun mau kurban kambing, orang itu pasti beli sendiri, yang jauh lebih murah", lanjutnya tenang.

Saya ketawa. Takmir yang lain tak jauh beda.

Senin, 31 Oktober 2011

Haji Sandal Jepit

Bingung? Istilah ini mulai populer ketika musim haji tiba. Kalau anda mendengar pemberitaan koran yang ramai-ramai mewartakan adanya jamaah haji yang gagal berangkat melalui biro perjalaan haji, maka mereka yang gagal inilah yang ditempelkan kepada mereka sebutan 'haji sandal jepit'.

Lho kok?

Lebih teknis lagi, haji sandal jepit adalah mereka calon jamaah haji yang berangkat tidak masuk jatah kuota haji reguler maupun khusus. Jamaah haji non kuota ini menggunakan sistem berhaji dulu di Makkah lalu mengikuti menjalankan umrah di Madinah. Berdasarkan asal geografis pemberangkatannya, haji sandal jepit dibedakan dalam dua kategori. Yang pertama adalah WNI yang dijadwalkan berangkat melalui embakarsi haji di tanah air. Mereka biasanya pergi berombongan melalui kelompok-kelompok biro perjalanan haji swasta. Sedang yang kedua adalah para WNI yang bekerja di Arab Saudi atau negara timur tengah lainnya. Mumpung tempat kerjanya masih berdekatan dengan Mekah, tak ada salahnya toh sekalian ibadah, pikir mereka.

Meski dianggap sah secara hukum agama, namun keberadaan para haji sandal jepit ini sangat merepotkan pemerintah. Pemberitaan di media tentang jamaah haji yang terlantar atau pelayanan yang kurang, seringkali tanpa disertai penjelasan bahwa mereka adalah jamaah haji non kuota. Contoh, mengatasi jamaah haji non kuota yang yang kesasar. Sulit bagi petugas untuk menginformasikan lokasi pemondokan mereka.

"Jika jamaah haji reguler bisa dideteksi dengan cepat lokasi pemondokannya. Tapi kalau haji non kuoata, sulit sekali mencarikan pemondokan," tandas Khoirizi Dasir Kepala Seksi Pengedali Haji Khusus Daerah Kerja Makkah.

Namun berarti Khoirizi lepas tangan. "Bagiamanapun juga mereka tetap warga Indonesia. Dan kami kewajiban untuk menolongnya," paparnya.

Resiko Haji Sandal Jepit

Berbekal dengan semangat menunaikan ibadah urutan kelima dalam rukun Islam, banyak calon jamaah haji sandal jepit ini yang abai terhadap resikonya. Dengan sadar bahkan dibeberapa tempat harus berebut dan mengeluarkan biaya yang jauh lebih tinggi dari jamaah kuota, mereka rela terdaftar sebagai non kuota. Yang penting berangkat. Yang penting Ibadah. Yang penting haji!

Berikut adalah resiko-resiko yang harus diwaspadai bila anda memutuskan untuk terdaftar sebagai haji sandal jepit:
  1. Tidak tersimpan dalam data base Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kemenag. Bila perjalanan haji anda tidak ada hambatan berarti, semua mulus sesuai rencana. Orang bilang, dimudahkan Alloh, maka tidak terdaftar dalam Siskohat, bukanlah masalah besar. Namun bila anda memiliki bakat pikun dan gagap di negara asing, lalu tanpa diminta-minta anda terlantar dan tersesat, maka ketika anda datang pada Media Center Haji Indonesia Kemenag yang ada di sana untuk ditunjukkan lokasi pemondokan dan teman satu rombongan , maka anda akan ditanya nomor ID anda, lalu anda bilang nggak punya ID, maka jangan marah bila petugas dengan ramah akan berkata, Bapak-Ibu banyak-banyak berdoa saja ya. Dan fakta berbicara: banyak jamaah haji non kouta yang terlantar sejak di bandara atau tersesat di masjidil haram. Bersiap-siaplah!
  2. Mengalami kesulitan saat akan dimakamkan. Bukan cuma terlunta-lunta, bahkan sekiranya Alloh menakdirkan jamaah non kuota meninggal saat menunaikan ibadah haji, diperlukan prosedur yang rumit dan birokrasi yang panjang. Masih ingatkan? Jenazah Ronidah Muhamad Amin, jamaah asal Muara Enim, Palembang bahkan sampai dua hari belum bisa dikuburkan. Pihak muasasah tidak berani menguburkan jenazah jamaah asal Muara Enim itu sebelum ada surat keterangan dari pemerintah Indonesia perwakilan Arab Saudi. Kadaker yang bertanggung jawab atas jamaah haji resmi yang terdaftar di Kementerian Agama tidak bisa mengeluarkan surat keterangan untuk pemakaman. "Kalau ada jamaah nonresmi meninggal saya sarankan agar menghubungi konsuler di KJRI. Karena proseduralnya begitu. Kami hanya bertanggung jabwab pada jamaah yang resmi, kalau nonkuota tanggung jawab KJRI,” jelas Subakin, Kadaker PPIH.
  3. Gagal Berangkat. Coba anda ketikkan keyword 'batal haji 2011'. Tak perlu dijelaskan lagi. Semua pembatalan tersebut menimpa jamaah haji sandal jepit! Dan parahnya lagi, uang yang telah disetor jamaah tidak dapat ditarik kembali. Pihak Penyelenggara hanya menjanjikan untuk dapat diberangkatkan tahun depan. Meski banyak diantara mereka para penyelenggara haji itu yang hanya menebar janji. Selengkapnya lihat disini, disini, disini dan disini.
Penyebab Munculnya Fenomena Haji Sandal Jepit

Meskipun pemberitaan media gencar mewartakan penderitaan yang dialami haji non kuota, namun dari tahun ke tahun jamaah haji jenis ini cenderung meningkat. Penyebabnya antara lain:
  1. Niat yang tulus untuk menunaikan ibadah rukun Islam kelima, mendorong mereka untuk berpikir positif terhadap biro perjalanan haji. Dapat dikatakan, tak banyak tuntutan yang terlontar dari mulut jamaah, ketika hendak diberangkatkan kembali musim haji tahun ini. Sekalipun banyak cerita dari jamaah haji non kuota yang kerap mengeluh atau merasa dirugikan oleh oknum yang memberangkatkan mereka. "Sepertinya keluhan dan rasa dirugikan hilang setelah bisa wukuf dan tawaf di kakbah,"kata salah satu jemaah.
  2. Tawaran kemudahan pengurusan. Meskipun lebih mahal dari ONH yang ditetapkan pemerintah, mereka cenderung memilih haji non kuota karena kemudahan yang ditawarkan biro perjalanan. "Memang pemerintah lebih murah. Tapi, pemerintah memberlakukan pembatasan usia. Sebagian dari kami sudah tidak bisa lagi mendaftar haji di pemerintah karena usia yang lanjut. Selain itu, kami juga harus masuk daftar tunggu," kata salah seorang jamaah non kuota.
  3. Tidak menyadari kalau dirinya termasuk dalam jamaah non kuota. . Hal ini diduga terjadi karena keawaman mereka mengenai haji reguler, haji plus atau semi plus. Bisa juga karena memang ada yang mengkoordinir, seperti biro atau majelis-majelis taklim. Para jamaah ini percaya saja dengan pimpinan majelis taklim. “Mereka tidak tahu jalurnya dan bayar melalui yang bersangkutan,” ungkapnya.
  4. Adanya ketimpangan antara kuota jamaah haji dengan minat masyarakat Indonesia. Di beberapa provinsi kursi haji baru kosong setelah 2021 nanti. Di antaranya di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nangroe Aceh Darussalam. Hal tersebut dijadikan peluang emas sebagian oknum untuk mencari keuntungan sendiri. Mereka memanfaatkan peluang dari jalur non-kuota yang disediakan oleh Kedutaan Arab Saudi di Jakarta.
  5. Kelemahan dalam pengurusan visa di KBRI Arab Saudi di Jakarta, dan pengawasan imigrasi di Indonesia. Jamaah haji non kuota ini bisa terbang ke Saudi karena memperoleh visa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Tidak semestinya pemerintah Saudi mengeluarkan visa haji untuk penduduk Indonesia di luar kuota yang telah ditentukan pemerintah Saudi untuk Indonesia. Kuat dugaan hal ini terjadi karena adanya peran calo atau makelar visa.
  6. Tidak tepatnya pemahaman tentang konsep istatha'ah ibadah haji. Konsep istatha'ah diartikan sebagian ulama sebagai ukuran individual kemampuan kesehatan fisik, ketersediaan ongkos dan fasilitas pendukung untuk menunaikan ibadah haji. Pengertian istatha'ah yang hanya fokus pada kemampuan dan kesempatan individu dibangun atas dasar bahwa seruan haji sangat erat kaitannya dengan "panggilan Allah". Tidak ada urusan mengenai jalur yang ditempuh. Entah itu haji kuota atau non kuota. Membatasi kesempatan berangkat haji, tidak lain merupakan tindakan "melawan" arus yang digariskan syariat.

Kenapa Harus Ada Kuota? Pertanyaan ini wajar, mengingat durasi waiting list di beberapa daerah di Indonesia terlalu panjang. Namun membuka pintu lebar-lebar tanpa kuota mengundang banyak permasalahan. Pertimbangan dan alasan dilakukannya kuotahaji antara lain sebagai berikut:

  1. Konsep istatha'ah sebagaimana kriteria di atas juga mencakup soal kepanitiaan yang disiapkan dalam pelaksanaan haji. Konsekuensi dari pengertian ini, pada gilirannya membatasi orang untuk melaksanakan haji. Sehingga perjalanan haji hanya bisa ditempuh melalui jalur kuota yang disediakan pemerintah. Dalam hal ini adalah Kementerian Agama RI. Penetapan kuota justru untuk mewujudkan kriteria istatha'ah yang tertera dalam ayat dasar pelaksanaan haji. Karena istatha'ah tidak hanya berkaitan dengan individu, akan tetapi kondisi serta pertimbangan pemerintah sebagai ulil amri yang sah, juga menentukan ukuran istatha'ah pelaksanaan haji. Oleh karenanya, ketika tidak terlaksana dengan baik, maka pelaksanaan haji tidak masuk dalam kategori istatha'ah.
  2. Pernyataan Ketua Lajnah Daimah Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang mengatakan tidak sah untuk melakukan haji tanpa izin haji. “Membantu para peziarah untuk memasuki tempat-tempat suci tanpa izin haji bertentangan dengan hukum dan penguasa, dan orang-orang yang melakukan haji tanpa izin haji melakukan hal yang melanggar hukum,” kata Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dalam sebuah pernyataan yang didistribusikan oleh Gubernuran Makkah.
  3. Untuk menjamin keselamatan jamaah dan mendukung tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk tujuan tersebut dengan cara mengurangi kepadatan selama ibadah haji.
  4. Kuota penting bukan hanya untuk mengendalikan massa tapi juga untuk merencanakan layanan yang diperlukan. Kita tentu tidak menginginkan kejadian di Mina tahun 1983 terulang bukan?

Untuk meminmalisir jumlah jamaah haji non kuota, sebenarnya tidak terlalu sulit. Hanya membutuhkan komitmen institusi pengelola haji melalui peningkatan koordinasi. Lemahnya koordinasi ini nampak dari ucapan Zakaria Anshar, Konjen RI di Jeddah, yang mengatakan bahwa sebenarnya keberadaan jamaah haji non kuota ini bisa dihentikan pada saat pemeriksaan dokumen keimigrasian oleh petugas imigrasi di bandara Indonesia.Namun dia menyangsikan kesiapan Imigrasi melakukan penyetopan jamaah haji non kuota.

Selain itu untuk mengakomodir jumlah jamaah yang terus bertambah, tak ada salahnya Kementerian Agama melakukan koordinasi dengan Arab Saudi agar kuota haji tahun depan menambah kuota dan menyetop pemberian visa di luar kuota yang resmi.

Dengan langkah-langkah di atas, dan sosialisasi yang gencar tentang haji kuota, diharapkan cerita terlantar, derita dan gagal berangkat jamaah haji non kuota tak kan terulang. Namun bagaimanapun hidup adalah pilihan. Masih berminat menjadi haji sandal jepit?

Minggu, 30 Oktober 2011

Semoga Komodo Bukan Komoditas Politik


Masih ingat 'gladiator'? Ia merupakan salah satu film favorit saya. Masih terekam dalam benak saya, ucapan Commodus Patricide, tatkala bermaksud mengurangi pengaruh Senat Romawi, dengan pernyataannya, "Berikan pada rakyat apa yang mereka sukai. Maka mereka akan menyerahkan hatinya padamu".

Commodus
tentu bukanlah raja yang bijaksana. Terlihat dari kedengkiannya pada Maximus Decimus Meridius, seorang Jendral Besar di Roma, masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius, hingga rela mengotori tangannya dengan melakukan pembunuhan secara brutal terhadap keluarga Maximus. Maka memberikan pada rakyat apa yang mereka sukai, akan mengalihkan perhatian rakyat pada kelemahan yang dia miliki. Dan karena rakyat Romawi saat itu adalah pecandu gladiator, maka kompetisi gladiator tingkat negara pun rutin digelar. Memperebutkan piala Kaisar tentu saja.

Ajakan untuk mendukung komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban baru dunia sudah terdengar lama. Namun frekwensinya baru terasa gempita satu bulan belakangan ini. Terlebih Sidomuncul melalui penampilan para artisnya , rutin mengisi tayangan iklan layanan umum di televisi. Berbagai slogan pun akrab di telinga.

"Dukung Komodo, Ketik Komodo kirim ke 9818" "Vote for Komodo" Bahkan yang paling heroik, "Dukung RI: Ketik KOmodo kirim ke 9818, Gratis...!"

Siapapun boleh mendukung komodo. Tak ada satupun undang-undang yang melarangnya. Namun kiprah para aktivis (mantan) politik dalam hal ini patut dicermati. Mirip saat hajatan piala AFF 2010 kemaren. Sebelumnya tak pernah ada dukungan masyarakat yang begitu besar terhadap kesebelasan nasional Indonesia. Namun gelaran kemaren menuai dukungan dari seluruh lapisan, tak peduli kaya ato miskin, artis, pegawai, pelajar, pengangguran, politikus bahkan pejabat, tumplek blek memenuhi stadion gelora.

Melihat animo masyarakat yang begitu besar, politikus pun mulai berhitung. Sesumbar Nurdin Halid (meski belum pasti juara) bahwa keberhasilan timnas Indonesia menembus final adalah andil Partai Golkar, memancing reaksi dari lawan-lawan politiknya. Maka dimulailah babak baru. Episode menggulingkan Nurdin. Semua berebut untuk menempatkan orangnya pada pucuk kepemimpinan PSSI.

Sama halnya dengan gempita piala AFF kemaren, saat ini masyarakat Indonesia sedang ephoria untuk mendukung Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. Tanpa bermaksud untuk menilai keikhlasan mereka dalam mengkampanyekan dukungan pada Komodo, namun Komodo telah menjadi isu besar. Isu nasionalisme. Dan sejak dulu , isu nasionalisme dekat sekali bahkan beririsan dengan isu politik.

Berikut aktivitas beberapa tokoh nasional maupun lokal yang terlibat aktif dalam mengkampanyekan dukungan terhadap komodo, secara kronologis sebagai berikut:
  1. Jusuf Kalla, mantan wapres RI, saat ini menjadi vote getter dan duta besar pulau komodo. Bapak yang masih cekatan ini bahkan langsung bergerak cepat dengan menggandeng tiga operator besar untuk menurunkan tarif sms dukungan dari Rp1000 menjadi Rp1.
  2. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI, dalam sela peresmian Bandara Internasional Lombok mengajak seluruh menteri di jajaran kabinetnya dan publik untuk ikut mendukung Komodo masuk dalam nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonders. Caranya dengan vote SMS 9818 untuk semua operator.
  3. Mahfud MD dengan gaya khasnya berkata, "Kita sudah mendukung semua agar Komodo masuk ke tujuh keajaiban dunia. Pak Jusuf Kalla juga sudah bagus menjadi Duta Komodo, saya kira bagus," kata dia di Gedung MK, Jakarta, Kamis malam 6 Oktober 2011.
  4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai Barat (Mabar), melalui ketuanya Mateus Hamsi, S.Sos dalam sidang paripurna DPRD, Kamis (20/10/2011). meminta masyarakat untuk mengirimkan sms ke nomor 9818 sebagai bentuk dukungan untuk komodo masuk dalam new seven wonders.
Bagaimana tanggapan orang asli NTT? Berikut hurek dalam blognya berpendapat:

  • Pentingkah status komodo sebagai keajaiban dunia?
"Bisa penting karena komodo dan pulau-pulau sekitar, khususnya Flores dan NTT, bakal jadi jujukan wisatawan dunia. Makin banyak turis, tentu saja ekonomi di NTT bisa meningkat. Angka kemiskinan yang tinggi, predikat NTT sebagai Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu, bisa perlahan-lahan hilang".
  • Bagaimana bila tidak menang?
"andaikata tidak berhasil, si komodo ini tetap saja binatang purba yang hanya ada di bumi Indonesia. Dan itu sudah suatu keajaiban dunia, tanpa perlu pemungutan suara, polling SMS, mobilisasi e-mail, dan sebagainya. Masih banyak cara untuk mempromosikan komodo tanpa harus terjebak permainan pihak-pihak tertentu di luar negeri yang punya kepentingan bisnis di balik proyek 'keajaiban dunia' itu."
  • Bagaimana dengan metode pengiriman SMS untuk menentukan pemenang?
"Lucu juga kalau status 'keajaiban dunia' diperoleh dari jumlah SMS. Kalau SMS-nya kurang, status 'keajaiban' itu hilang, digeser daftar lain yang mungkin kalah bobot dibandingkan binatang purba bernama komodo itu".
  • Bagaimana perasaan anda melihat gencarnya dukungan pada komodo?
"Sebagai orang NTT, saya tentu saja sangat bangga melihat kampanye besar-besaran untuk si komodo. Sejak jadi provinsi sendiri pada 20 Desember 1958, komodo menjadi lambang NTT. Tapi, anehnya, orang-orang NTT sendiri hampir tidak pernah melihat langsung binatang komodo itu. Kecuali tentu saja penduduk Pulau Komodo, Rinca, Labuan Bajo, dan sebagian Kabupaten Manggarai".
  • Mengapa begitu?
"Karena di NTT tidak ada kebun binatang. Komodo-komodo itu biasanya dikirim untuk koleksi kebun binatang di Jawa, Sumatera, atau luar negeri. Saya sendiri, yang asli NTT, pertama kali melihat komodo justru di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur".
  • Bagaimana respon Pemda NTT dalam mengelola 'keajaiban dunia" ini?
"Pemda NTT sendiri setahu saya sejak dulu kurang optimal menjadikan Pulau Komodo dan sekitarnya sebagai pusat wisata unggulan NTT. Baru-baru ini saja setelah ada proyek 'keajaiban dunia' baru ada geliat".

Komodo, The New Pemersatu Bangsa?


Gegap gempita pemilihan tujuh keajaiban dunia yang baru (The New 7 Wonder of The World) memasuki babak baru dalam ruang publik di Indonesia. Melalui kampanye Ketik Komodo,kirim ke 9818, masyarakat pun berbondong-bondong memberikan pulsanya sebesar satu rupiah dari sebelumnya Rp.1000 per sms.

“Kita mendeclaire, nanti mulai Satu (15/10/2011) pukul 00.00 WIB, tarif SMS seluruh operator sudah menjadi Rp 1,” ujar JK dalam acara jumpa pers yang digelar di kantor PMI, Jakarta, Jumat (14/10/2011).

Dalam beberapa kali kesempatan Jusuf Kalla yang didaulat menjadi duta besar Pulau Komodo sangat getol memasarkan dan mempopulerkan dukungan terhadap komodo. Langkahnya begitu agresif ketika menggandeng dan bekerjasama dengan 3 operator seluler utama di Indonesia (Telkomsel, Indonesat, dan XL) untuk mengurangi biaya SMS Premium 9818 dari Rp1000 menjadi Rp1 agar masyarakat tidak diberatkan dengan dukungan ini.“Cukup ketik komodo, kirim ke 9818,” kata JK berulang kali. Tugas mantan Wapres RI ini cukup berat. Ia harus memperjuangkan Pulau Komodo menjadi satu diantara 7 keajaiban dunia baru. Penentuannya dilakukan oleh panitia kecil New7Wonders dalam final yang rencananya akan dihelat pada 11 November 2011 mendatang.

Siapakah New7wonders ini? Yang aksi globalnya melakukan pemilihan tujuh keajaiban dunia yang baru begitu menyedot perhatian publik. Termasuk Indonesia. Bahkan presiden SBY pun tak ketinggalan. Di sela-sela acara resmi kenegaraan, peresmian Bandara Internasional Lombok, SBY menyerukan seluruh menterinya di jajaran kabinet dan masyarakat untuk ikut mendukung Komodo masuk dalam nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonders. Cukup dengan vote SMS 9818 ke semua operator.

Adakah kepentingan tersembunyi New7wonders dalam kontes kali ini? Keuntungan macam apa yang kita peroleh sekiranya Komodo benar-benar masuk dalam kategori tujuh keajaiban dunia yang baru. Lantas berapa lama Komodo berhak menyandang gelar sebagai satu dari tujuh keajaiaban dunia, kalau kemudian untuk jangka waktu tertentu akan diadakan kontes serupa? Dan kenapa harus komodo? Bukankah banyak jenis hewan lainnya yang berhabitat cuma di Indonesia macam Orang Utan, Anoa, Maleo, Cassiopeia ornata, Tripedalia cytophora, Mastigias papua dan Aurelia aurita. ?

Sekedar mengingatkan saja, Pemerintah RI pernah berantem dengan Yayasan New7Wonders pada awal Pebruari 2011. Saat itu Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, sempat merasa diancam oleh Yayasan New7Wonders untuk menyetorkan uang senilai US$45 juta atau lebih dari Rp400 Milyar agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah final kontes ini. Permintaan uang itu disertai ancaman pencoretan Pulau Komodo jika Pemerintah Indonesia tidak bersedia.

Rumor sepihak ini langsung dibantah oleh New7Wonders secara resmi dalam situsnya. New7Wonders bahkan menuding pemerintah RI wan prestasi, lamban dan tidak produktif.

Entahlah siapa yang benar. Tapi fakta bercerita pada kita tentang perselisihan yang menguap begitu saja, entah kemana. Dan Komodo pun menjadi satu dari 28 finalis.

Bukan dengan pemerintah RI saja New7Wonders bermasalah. Salah satu finalis New7Wonders, Maladewa, resmi menyatakan mundur dari kompetisi. Mereka menarik diri karena mahalnya biaya lisensi dan paket sponsor yang diminta panitia penyelenggara New7Wonders. Pengumuman ini dipajang di situs resmi pariwisata pemerintah Maladewa.

Pemerintah RI sendiri sampai sekarang belum pernah berterus terang, berapa biaya yang harus dikeluarkan seandainya kemudian Komodo ditetapkan sebagai satu diantara tujuh keajaiban baru dunia. Namun bila merujuk kepada Maladewa dalam situs resminya, biaya yang mesti ditanggungnya agar masuk sebagai finalis terdiri atas point-point sebagai berikut:

1. Sponsor Platinum dengan biaya lisensi sebesar US$ 350 ribu atau sekitar Rp 3 miliar
2. Dua biaya lisensi sponsor emas masing-masing US$ 210 ribu atau sekitar Rp 1,8 miliar
3. Sponsor dari acara 'World Tour' dimana Pemerintah maladewa harus membayar untuk delegasi orang untuk mengunjungi negara, menyediakan wahana balon udara panas, perjalanan bagi wartawan, penerbangan, akomodasi, komunikasi dan biaya lain.
4. Biaya lisensi untuk penyedia telekomunikasi nasional untuk berkampanye dalam New7Wonders sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 8,8 miliar. Namun angka itu akhirnya menurun setelah dinegosiasikan menjadi US$ 500 ribu atau sekitar Rp 4,4 miliar
5. Biaya lisensi untuk penerbangan Maladewa yang nantinya akan menampilkan logo pada pesawat sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 8,8 miliar.

Minimal Rp18 M harus dikeluarkan Maladewa. Itupun belum termasuk poin no 3.

Bagaimana dengan kita? Benarkah biaya yang harus kita tanggung minimal sama dengan Maladewa? Wallohu A'lam. Namun Irwan Hidayat sendiri, bos Sido Muncul yang ikut memberikan hibah dalam bentuk promosi layanan publik sebesar 2M sebagai bentuk dukungan kampanye komodo, tidak berani menampilkan logo Sidomuncul dalam tayangan iklan PSA (public Service Advertisement)nya .
"Sebab, kalau pakai nama perusahaan, maka kita harus membayar kepada Yayasan New 7 Wonders sebesar Rp 1 miliar," ungkap Irwan kagi.

Selain fakta tentang transaksi ekonomi yang mulai terlibat dalam penentuan finalis, aroma dagang sapi tersebut semakin mengental karena tidak transparannya dan konsistensi penentuan ranking finalis. Dari 28 finalis, sebanyak 16 tempat menurun jumlah dukungannya. Termasuk Maladewa dan Pulau Komodo. Sementara sisanya terlihat meningkat jumlah dukungannya ekonomi cukup kental tercium dari perhelatan tujuh keajaiban baru dunia ini.

Selengkapnya ke duapuluh delapan finalis tersebut sebagai berikut:

New7Wonders of Nature Finalists Map

Pemerintah RI sendiri sebenarnya cenderung untuk mengikuti langkah Maladewa. Sebagaimana penuturan Bob Assegaf dari Forum Wartawan Pecinta Komodo yang mengatakan setelah berselisih paham dengan pemerintah RI, yayasan New7Wonders kemudian menggandeng aktivis LSM di Indonesia. LSM yang bernama Pendukung Pemenangan Komodo (P2K) pun berdiri dibawah komando Emmy Hafild, yang kemudian menjadikan JK sebagai vote gather SMS dukungan Komodo.

Lantas bagaimana dengan lembaga resmi PBB, UNESCO yang jauh lebih berwenang dalam hal ini. Melalui situsnya, UNESCO menyatakan:

"In order to avoid any damaging confusion, UNESCO wishes to reaffirm that there is no link whatsoever between UNESCO's World Heritage programme, which aims to protect world heritage, and the current campaign concerning "The New 7 Wonders of the World".
This campaign was launched in 2000 as a private initiative by Bernard Weber, the idea being to encourage citizens around the world to select seven new wonders of the world by popular vote.
Although UNESCO was invited to support this project on several occasions, the Organization decided not to collaborate with Mr. Weber."

Bagaimana dengan komodo sendiri. Benarkah bahwa penetapan komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia akan memperbaiki kualitas hidup komodo? Ini perlu ditanyakan , karena berbagai kampanye vote for komodo, selalu menyajikan tentang manfaat ekonomi yang diperoleh Indonesia terutama penduduk lokal , sebagaimana pernyataan berikut dalam sebuah situs :

"Jika Komodo sukses menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia, maka dapat dipastikan, akan terjadi multy player effect terhadap kehidupan masyarakat. Secara umum, Indonesia semakin memperkukuh posisinya di mata dunia sebagai negeri yang alamnya kaya dengan eksotisme yang menantang untuk dikunjungi. Sementara itu, penduduk Pulau Komodo dan masyarakat di Nusa Tenggara yang selama ini dikenal sebagai kawasan berpenduduk rata-rata masih di bawah angka kemiskinan, akan terimbas dan terdorong kehidupan ekonominya, karena kunjungan orang-orang berduit dari manca negara berdatangan ke sana. Dan sudah tentu, juga akan terjadi perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur dari pemerintah pusat ataupun karena bantuan dunia, sehingga hal itu akan memicu aktivitas peningkatan kegiatan ekonomi rakyat."

Untuk mengetahui apa yang paling dibutuhkan komodo, tentu saja tidak perlu melalui sensus dan mendatangi komodo satu persatu sambil menanyakan pada mereka, "bagaimana perasaan anda jika menjadi mahluk yang terkenal di dunia?". Cukuplah menggunakan pendapat para peneliti Komodo dan antropolog , salah satunya adalah Prof. Putra Sastrawan.

Peneliti Komodo sejak tahun 1969 yang juga mantan Pembantu Rektor III Universitas Udayana ini menyatakan , " Yang paling dibutuhkan Komodo saat ini adalah konservasi, bukan justru mempopulerkannya, apalagi lewat SMS macam audisi idol. Komodo sudah populer sejak diterbitkan pada jurnal ilmiah dunia pada tahun 1912. Statistik Kehutanan menyebutkan 95% pengunjung pulau ini adalah orang asing. Artinya, di luar negeri, pulau ini sudah populer".

Selain itu, diperlukan adanya penguatan stake holders di sekitar habitat Komodo dalam bentuk konsistensi menjaga habitat komodo. Putra menegaskan pentingnya hal ini karena adanya penurunan jumlah populasi Komodo sejak penelitiannya tahun 1969 sampai dengan tahun 2000-an. Pada survey periode 1969-1970, jumlah Komodo yang tersebar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Flores mencapai 5.500 ekor. Pada survey tahun 2000-an, jumlahnya tidak kurang dari 3 ribu ekor.

Kritik sangat keras terlontar dari Prof. Dr. Laurentius Dyson guru besar Antropologi Fisip Universitas Airlangga. Menurutnya, tidak etis jika Presiden ikut berkampanye untuk kepentingan New7Wonders yang notabene adalah lembaga swasta. “Lagi-lagi masyarakat dieksploitasi dengan diajak kirim SMS untuk mendukung sesuatu yang tidak jelas manfaatnya,” kata dia.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More